DPPKAD Kabupaten Manokwari Selatan Kunjungi Kubu Raya, Ini yang Dipelajari
Manokwari Selatan banyak potensi belum tergali, khususnya dari pajak MBLB.
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Madrosid
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KUBU RAYA - Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Manokwari Selatan Propinsi Papua Barat melaksanakan kunjungan, ke DPPKAD Kubu Raya, untuk sharing sistem pengelolaan keuangan dan aset daerah, Kantor DPPKAD Kubu Raya, Senin (12/6/2017).
Rombongan DPPKAD Manokwari Selatan berjumlah 14 orang. Ketua rombongannya Frengki Mandacan memimpin seluruh anggotanya melihat langsung suasana pengelolaan sistem pengelolaan keuangan di Kantor DPPKAD Kubu Raya hingga ke ruang server.
Kedatangannya, disambut langsung Kabid Pajak Lainnya, Azmi berserta seluruh jajaran DPPKAD Kubu Raya. Semua sistem, menjadi perhatian dari Manokwari Selatan. Terutama pada aplikas sistem informasi pajak daerah (Simpatda).
"Kunjungan ini dalam rangka pengelolaan pajak daerah di Kabupaten Kubu Raya. Sebagai sama-sama daerah otonomi baru, tahun 2012 pemekaran dari Manokwari Selatan sehingga usia masih kurang lebih dengan Kubu Raya. Namun Kubu Raya dianggap mampu dalam melaksanakan pengelolaan keuangan makanya mereka melakukan kunjungan kesini," kata Azmi.
Dalam kunjungan ini mereka sangat antusias dengan Kubu Raya. Sehingga dari 500 kabupaten kota di Indonesia. Mereka malah memilih Kabupaten Kubu Raya. "Ini artinya ada informasi positif sampai ke Manokwari Selatan," imbuh, Azmi.
Sampai mereka, secara langsung melakukan kunjungan ke DPPKAD Kubu Raya. Seluruh jajaran petugas pemungut melakukan sharing informasi. Karena dalam pengelolaan pajak daerah harus jeli dalam potensi daerah masing-masing. Tentu disesuaikan dengan kemampuan SDM.
"Manokwari Selatan banyak potensi belum tergali, khususnya dari pajak MBLB. Fasilitas-falistas restoran belum banyak. Inilah yang ingin mereka pelajari dari Kubu Raya," paparnya.
Melihat dalam pengelolaan keuangan, Kubu Raya mengalami peningkatan pendapatan dari Rp 1,1 ke Rp 3 miliar. Kenaikannya Rp1,9 miliar. Prosentasinya sekitar 270 persen terjadi peningkatan.
"Inilah yang ingin dicari informasinya oleh Manokwari Selatan. Kunjungan seperti ini juga kita manfaatkan, bagaimana daerah kita bisa terangkat dan terkenal oleh daerah lain," tambahnya.
Untuk itulah mereka rela menumpuh perjalanan cukup jauh hanya untuk sharing pengelolaan pajak daerah. Prediksinya, untuk biaya per orang yang harus mereka keluarkan untuk ke Kubu Raya sekitar Rp 13 juta lebih. Jika ditotalkan untuk 14 orang bisa memakan ratusan juta.
"Makanya kita sangat menyambut baik, kunjungan mereka ini. Sesuatu yang tak dapat kita perkirakan. Mereka juga mimpi bisa sampai ke kubu raya," ungkapnya.
Terhadap aplikas sistem informasi pajak daerah (Simpatda) yang paling mereka inginkan. Karena dalam pengelolaan pajak di Kubu Raya memakai satu instrumen. Tahapan sampainya di setiap bagian memiliki pola sangat transparan dan jelas "Apakah sudah sesuai apa belum untuk di ACC," tukasnya.
Sebelumnya pimpinan rombongan DPPKAD Manokwari Selatan, Frengki Mandacan menyampaikan niat dan tujuan mereka untuk sharing sistem aplikasi. "Kami ingin ada peningkatan pengelolaan pajak di daerah kami. Makanya kami berkujung kesini, niatnya untuk mengadopsi sistem pengelolaan pajak disini. Terutama pada sistem aplikasi Simpatda," ujarnya.
Mereka begitu menginginkan sekali pengelolaan pajak di daerahnya bisa lebih baik. Sehingga pengelolaan pajak bisa maksimal dan berimbas pada peningkatan pendapatan di daerahnya. "Kita melihat Kubu Raya memiliki pengelolaan pajak sangat baik dari daerah lainnya. Makanya kami datang untuk sharing. Karena Kubu Raya sama-sama daerah pemekaran," kata Frengki.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/dppkad-manokwari_20170612_154520.jpg)