Breaking News:

Sudahkah Anda Menerima THR? Ini Aturan THR Keagamaan yang Ditetapkan Menaker RI

Lanjut Suherman, terdapat beberapa perbedaan pada aturan THR sebelumnya dengan aturan THR terbaru yang berlaku sejak Maret 2016 ini.

Penulis: Tito Ramadhani | Editor: Mirna Tribun
Sudahkah Anda Menerima THR? Ini Aturan THR Keagamaan yang Ditetapkan Menaker RI
TRIBUN FILE/ISTIMEWA
Ilustrasi

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Tito Ramadhani

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Tunjangan Hari Raya atau yang lazim disebut dengan THR, menjadi satu di antara hal yang mungkin sangat ditunggu bagi setiap tenaga kerja atau buruh di Indonesia.

Koordinator Wilayah Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) Kalbar, Suherman menjelaskan, sebelumnya sudah terdapat peraturan mengenai aturan THR di Indonesia, yang sudah mengatur tentang tunjangan hari raya bagi setiap tenaga kerja atau buruh di Indonesia, pada Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No PER-04/MEN/1994, namun peraturan itu kini sudah diamandemen menjadi Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2016.

"Pada dasarnya, setiap perusahaan berkewajiban untuk membayarkan THR bagi setiap pegawainya. Karena jika tidak, maka perusaahaan akan dikenakan denda sebesar 5 persen dari total THR yang seharusnya dibayarkan untuk setiap pegawainya," jelasnya, Selasa (6/6/2017).

Lanjut Suherman, terdapat beberapa perbedaan pada aturan THR sebelumnya dengan aturan THR terbaru yang berlaku sejak Maret 2016 ini.

Baca: Tampil di Acara Ramadan, Shah Rukh Khan Ngamuk dan Inilah yang Terjadi

Beberapa perubahan dalam aturan THR ini adalah, pada peraturan yang sudah diamandemen, terdapat lima hari raya yang tergolong dalam hari pembagian THR bagi tenaga kerja atau buruh di sebuah perusahaan.

"Yaitu Hari Raya Idul Fitri bagi pekerja Muslim, Hari Raya Natal bagi pekerja Kristen Katholik dan Kristen Protestan, Hari Raya Nyepi bagi pekerja Hindu, Hari Raya Waisak bagi pekerja Budha, dan Hari Raya Imlek bagi pekerja Konghucu. Jika pada pasal sebelumnya, seorang pekerja atau buruh yang akan mendapat THR diwajibkan untuk bekerja minimal tiga bulan secara terus menerus terhitung dari hari pertama masuk kerja, pada peraturan baru yang sekarang hanya diperlukan satu bulan secara terus menerus terhitung dari hari pertama masuk kerja," papar Suherman.

Diterangkannya, apabila masa kerja masih kurang dari 12 bulan atau 1 tahun, sebelum tanggal jatuhnya hari raya, maka Tunjangan Hari Raya (THR) yang akan diterima akan dihitung secara proporsional, dengan penghitungan:

(Masa kerja (dalam bulan) / 12) x Upah selama 1 bulan

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved