Warga Sekadau Kesal Listrik Kerap Byarpet Jelang Sahur dan Buka Puasa

Padahal ini kan bulan ramadan, masyarakat tentu sangat berharap listrik ndak sering padam. Ini justru sebaliknya.

Penulis: Rivaldi Ade Musliadi | Editor: Rizky Zulham
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/DESTRIADI YUNAS JUMASANI
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rivaldi Ade Musliadi

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SEKADAU – Listrik yang byarpet masih dikeluhkan oleh masyarakat, terutama pada saat Ramadan. Bahkan, masyarakat semakin dibuat berang lantaran padanya listrik tersebut menjelang berbuka puasa atau sahur.

Iskandar satu diantara warga Desa Peniti Kecamatan Sekadau Hilir menuturkan, padamnya listrik sangat mengganggu. Apalagi, padamnya listrik itu terjadi tak jarang terjadi berkali-kali dalam sehari.

“Padahal ini kan bulan ramadan, masyarakat tentu sangat berharap listrik ndak sering padam. Ini justru sebaliknya, awal-awal puasa saja sudah sering padam,” ujarnya, Kamis (1/6/2017).

Kondisi itu, kata dia, juga membuat pekerjaan ibu rumah tangga ikut terganggu, mulai dari memasak hingga pekerjaan rumah tangga lainnya. Untuk itu ia berharap, PLN dapat menjelaskan kepada masyarakat.

Baca: Sidak Tim Gabungan Pemkab Sekadau Temukan Gula Ilegal

Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Sekadau, Teguh Arif Hardianto mengaku kecewa terhadap pelayanan PLN. Apalagi, kata dia, belakangan ini kerap listrik padam terlebih pada saat ramadan.

“Seharusnya pada jadwal-jadwal hari besar harus ada antisipasinya. Minimal sebelum tanggal hari-hari besar itu harus ada persiapan yang matang. Tak hanya itu, anak-anak juga akan menghadapi ulangan, tentu jika terjadinya byarpet akan sangat mengganggu,” ujarnya.

Dikatakan dia, jika sudah terjadi pemadaman bergilir berarti PLN tidak menunjukan sifat profesionalnya. “Masa sekelas BUMN pelayanannya terkesan amatiran. Tidak ada perubahan dan adanya pemadaman bergilir,” katanya.

Untuk itu Teguh mendesak PLN agar bekerja profesional. Sebab, kata dia, dengan kondisi tersebut semakin membuat citra PLN semakin tidak baik. Terlebih, kata dia, nomor telepon pengaduan tidak aktif.

“Jangan tidak diaktifkan. Ini membuat masyarakat semakin resah dan tidak percaya lagi dengan PLN, kalau masyarakat menelepon itu harus dijawab sesuai dengan kondisi agar masyarakat pun memahaminya,” pungkasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved