Sabtu, Pemkot Pontianak Kembali Gelar Operasi Pasar Bawang Putih

"Seperti bawang putih kemaren, saat pemerintah belum melakukan operasi pasar, langkanya luar biasa, tapi setelah dilakukan operasi pasar paginya....

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / SYAHRONI
Wali Kota Pontianak Sutarmidji. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Syahroni

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Wali Kota Pontianak, Sutarmidji, mengatakan berdasarkan pantauan di Pasar Flamboyan bahwa harga bawang putih sudah berada dibawah Rp 40 ribu perkilogramnya.

"Bawang putih dipasaran sudah dibawah Rp 40 ribu, di Pasar Flamboyan itu jadi patokan. Kite tanggal tige nanti akan melakukan operasi pasar lagi, mungkin dengan jumlah yang lebih besar dari yang pertama," ucapnya, Kamis (1/6/2017).

Midji mengatakan, setelah dilakukan operasi pasar, banyak orang membawa bawang putih ke pasar di drop menggunakan pikup, dan bawang yang dibawa orang tersebut bukan dari operasi pasar yang dilakukan.

"Seperti bawang putih kemaren, saat pemerintah belum melakukan operasi pasar, langkanya luar biasa, tapi setelah dilakukan operasi pasar paginya, waktu sore sudah ada yang ngedrop bawang menggunqkan pikup, berararti barang itu ada disimpan," ucapnya.

Baca: Seorang Ibu Tega Tinggalkan Anaknya di Pinggir Jalan, Sang Bayi Merangkak ke Jalan

Bahkan ia juga melihat di media sosial ada yang menjual bawang putih secara online, saat sore harinya dan ia baca sendiri di facebook ada yang jual bawang putih, Rp 40 ribu tapi ambil sendiri.

Ditambahkan Midji, bawangnya bukan yang dijual dalam operasi pasar paginya.

Berarti masih ada orang nakal yang ingin berspekulan terhadap kebutuhan pokok ini.

"Saya awalnya mau telurusuri, tapi kawan-kawan bilang dia itu pedagang kecil, dan hanya memiliki beberapa karung bawang saja, tapi walaupun kecil. Kalau sudah berspekulan maka itu tidak dibenarkan dan menyimpan sampai puluhan karung bermaksud agar membuat barang langka, " tegasnya.

Selain itu ia juga menyoti kebijakan pemerintah pusat terutama kementerian yang memiliki kewenangan, seharusnya kenaikan bawang ini bisa diprediksi oleh pemerintah pusat, karena menurut Midji, 95 persen impor dari luar,

"Dulu harganya hanya kisaran Rp 25 ribu, dan bergejolak tinggi sehingga sekarang-sekarang ini diatas Rp 32 ribu. Jangan sampai ini ada indikasi membuat harga baru dipasaran. Seperti cabe rawit, dulu dikisaran Rp 30-40 dan setelah terjadi gejolak maka harganya jadi Rp 40-50 dan bertahan itu lalu menjadi harga baru di pasaran. Pemerintah harus nya memikirkan itu, jangan sampai membuat harga baru," pungkasnya.

Penulis: Syahroni
Editor: Mirna Tribun
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved