Junaidi: Portopolio Syariah di Indonesia Hanya 5,2 Persen

Bahkan ekonomi berbasis syariah lebih populer di luar negeri. Inggris yang mayoritas non-muslim, bank syariah ini berkembang pesat

Junaidi: Portopolio Syariah di Indonesia Hanya 5,2 Persen
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / MASKARTINI
Direktur Operasional PT BNI Syariah Junaidi Hisom (tengah) usai mengajar di SMA Muhammadiyah 1 Pontianak 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Maskartini

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Berbagai kegiatan untuk memperkenalkan keuangan syariah terus dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk oleh BNI Syariah yang menyambangi SMA Muhammadiyah 1 Pontianak, di Jalan Parit Haji Husein 2, pada Rabu (3/5/2017).

Kedatangan Direktur Operasional PT BNI Syariah Junaidi Hisom dalam rangka Board of Director (BOD) Teaching BNI Syariah ke seluruh siswa di Indonesia.

Junaidi yang hadir langsung untuk mengajar mengatakan, pengenalan dunia perbankan berbasis syariah bertujuan agar pelajar dapat menabung atau meminjam tanpa bunga. Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di Indonesia. Namun, Junaidi tak menampik minimnya pelaksanaan ekonomi syariah.

"Bahkan ekonomi berbasis syariah lebih populer di luar negeri. Inggris yang mayoritas non-muslim, bank syariah ini berkembang pesat. Mereka berlomba-lomba mempelajari ekonomi syariah dan menerapkan. Di Indonesia bahkan banyak yang memahami tetapi dalam pelaksanaannya tidak memiliki rekening syariah," ujar Junaidi usai mengajar ratusan di SMA Muhammadiyah 1 Pontianak.

Junaidi mengatakan data yang ada menunjukkan industri jasa keuangan, khususnya perbankan. Pasar syariah hanya 5,2 persen, sisanya pangsa pasar yang lebih besar dimiliki bank-bank konvensional. Hal ini tentu saja memprihatinkan mengingat masyoritas penduduk Indonesia merupakan muslim.

"Kita mengajak seluruh masyarakat termasuk tokoh agama dalam mengembangkan ekonomi syariah. Hasil penelitian menunjukkan portopolio syariah di Indonesia hanya 5,2 persen dari perbankan secara nasional. Bagaimana kita menggerakkan ekonomi secara nasional dengan prinsip syariah jika kekuatan kita hanya 5,2 persen. Makanya kami terus berupaya mengajak seluruh elemen masyarakat menggerakkan perbankan syariah," ujarnya.

Angka tersebut diakui Junaidi masih sangat rendah dibandingkan dengan negara seperti Malaysia yang bank syariahnya maju pesat. Makanya target BNI Syariah kata Junaidi membuat siswa mengerti sejak usia dini terkait perbankan syariah. Hari ini diakuinya merupakan titik awal pengenalan perbankan syariah.

Faktor lain yang mempengaruhi rendahnya pasar bank syariah diakui Junaidi lantaran anggapan masyarakat bahwa bank syariah diperuntukkan khusus bagi masyarakat muslim saja. Padahal secara umum seluruh lapisan masyarakat bisa menjadi nasabah bank syariah. Konsepnya pun menguntungkan nasabah karena menggunakan sistem syariah, dimana kata Junaidi tidak ada bunga, yang ada adalah bagi hasil.

"Harapan kita siswa terus mencari, kita sengaja memilih Kota Pontianak dan menyambangi sekolah SMA Muhammadiyah 1 Pontianak dan SMAN Negeri 1 Pontianak. SMA Muhammadiyah termasuk SMA yang peduli dalam pengembangan ekonomi syariah. Dalam empat tahun berturut-turut kita merupakan yang terbaik. Kita akan terus melakukan inovasi dan teknologi sesuai dengan fasilitas bank induk kita," ujarnya.

Pihaknya juga akan terus mensosialisaikan ekonomi syariah, terutama perbankan syariah. Menurutnya potensi berkembangan perbankan syariah sangat besar karena pangsa pasar masih terbuka lebar. "Hanya mau tidak masyarakat bersyariah. Jika dilihat potensi yang ada dengan jumlah penduduk mayoritas muslim. Ditambah lagi soal syariah bukan hanya untuk umat muslim merupakan suatu modal besar untuk perbankan syariah," ujarnya.

Junaidi mengatakan sektor ekonomi syariah non-perbankan pun mulai menjadi tren di masyarakat. Industri kuliner halal sendiri menjadi kebutuhan masyarakat. Begitu juga dengan wisata halal yang mulai mencuat. Ia mengatakan di Indonesia, Padang dan Nusa Tenggara Barat berhasil melahirkan konsep wisata halal, dimana akomodasi, makanan hingga hal lainnya dibikin sesuai dengan syariah.

"Nah yang kami mau, jangan hanya brand-nya saja yang halal, para pelaku bisnis di sana juga harus menggunakan bank syariah. Misalnya kedepan Kotav Pontianak yang akan dikembangkan maka tidak hanya hotel dan kuliner yang syariah tetapi alat pembayarannya juga harus syariah. Ini juga akan kami sampaikan ke Majelis Ulama Indonesia untuk memberikan imbauan kepada para pelaku bisnis syariah agar juga menggunakan perbankan syariah," ujarnya.

Penulis: Maskartini
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved