Breaking News:

AJI Pontianak Kutuk Aksi Teror Terhadap Penyidik KPK

Aliansi Jurnalis Independen Indonesia Pontianak, kita bersama mengutuk Kekejian yang dilakukan oleh para pelaku pada Novel Baswedan.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/RIDHO PANJI PRADANA
Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia Pontianak, Dian Lestari. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ridho Panji Pradana

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia Pontianak, Dian Lestari mengaku mengutuk kekejian oleh oknum yang tidak bertanggung jawab kepada satu diantara penyidik KPK.

Ia berharap adanya keterbukaan dalam pengungkapan tersebut, dan menurutnya pula jika lembaga legislatif, yudikatif maupun eksekutif sudah tidak berjalan dengan baik, maka jurnalislah sebagai pilar keempat dalam penegakan demokrasi.

"Aliansi Jurnalis Independen Indonesia Pontianak, kita bersama mengutuk Kekejian yang dilakukan oleh para pelaku pada Novel Baswedan. Kami ingin menyatakan komitmen untuk mengawal pengungkapan kasus ini terhadap pihak terkait, aparat hukum mestinya membuka lebar tentang siapa pelaku secara langsung maupun siapa dibalik perbuatan mereka," kata Dian Lestari, Rabu (12/04/2017) saat melakukan aksi bersama koalisi masyarakat sipil kalbar anti korupsi di Bundaran Digulist Untan Pontianak.

Ketua AJI Pontianak ini menilai teror atau apapun yang dilakukan kepada Novel Baswedan berarti para koruptor ataupun oknum tidak bertanggung jawab sudah salah langkah dan kehabisan langkah untuk meneror Novel Baswedan namun tidak berhasil.

Baca: Kecam Aksi Teror Terhadap Penyidik KPK, Masyarakat Sipil Kalbar Anti Korupsi Gelar Aksi Bersama

Sehingga yang dilakukan adalah teror secara langsung dan terbuka di kalangan masyrakat dengan menyampaikan kesan bahwa oknum tersebut bisa melakukan suatu kegiatan yang keji namun akhirnya akan menjadi bumerang.

"Dengan ini semua masyarakat dan elemen bergerak, dan people power akan menjadi kekuatan yang luar biasa jangan lupa bahwa para koruptur bisa kita kalahkan," tegasnya.

Ia juga mengatakan, sari segi pemahaman tentang korban dan pelaku, menurutnya para pelaku yang diperalat oleh para koruptur adalah korban, mestinya oknum tersebut sadar diperalat dan Ia sangat mengecam kegiatan keji yang dilakukan terhadap KPK.

"Pengungkapan harus berjalan dengan baik jika suatu saat presiden ataupun pihak hukum tidak terbuka menginformasikan pengungkapan kasus ini, kita semua media massa, jurnalis harus menagih sehingga apa yang harus dijalankan secara terbuka tidak lagi ditutupi kepada publik," tuturnya.

Menurutnya, untuk dimasa mendatang jika tidak melakukan gerakan bersama penekanan kasus seperti ini, maka para koruptur akan mendapatkan ruang yang bebas dengan senantiasa bertameng dengan kekuasaaan, serta dengan uang yang dimiliki dipengadilan hanya divonis dengan ringan, dan tidak disanksi moral, serta sanksi dimasa mendatang agar para koruptor tidak melakukan hal yang sama.

"Jika bicara sanksi kita semua elemen harus bergerak ditingkat masyarakat yang harus dilakukan sanksi moral, kita harus mengutuk dan menutup akses para koruptor sampai tidak ada lagi masyarakat yang diperalat oleh para koruptor untuk melakukan kejahatan, Anda, saya, kita semua adalah korban dari para koruptor, kita sulit mendapat akses pendidikan yang layak dengan harga yang murah adalah akibat dari koruptor, terkait dengan kasus e-ktp walaupun tidak ada hubungan langsung, jika dikorelasikan karena Novel Baswedan telah bersaksi dipersidangan dan berani menyebut anggota DPR yang terlibat, maka kita semua yang harus diayomi dan dilayani sekarang terganjal dan sulit mendapatkan e-ktp dengan cepat, begitu juga dengan SIM dan Plat kendaraan," ungkapnya.

Ia mengatakan, hal tersebutlah yang harus dilawan, dan jangan sampai dana-dana yang seharusnya dapat digunakan secara maksimal malah diselewengkan.

"AJI harus mempunyai Kritisi yang tinggi dan jangan sampai di nina bobokan dengan arus informasi yang gampang diakses, walaupun sulit kita harus investigasi, satu diantara tugas jurnalis ialah sebagai pilar keempat penegakan demokrasi. Apabila, eksekutif, legislatif dan yudikatif tidak berjalan dengan semestinya kita harus bertanya, kita harus lebih pintar dan data-data yang dibutuhkan menjadi point penting, saya prihatin jika jurnalis hanya mengutip berita dan tidak mau menggali lebih dalam," tukasnya.

Penulis: Ridho Panji Pradana
Editor: Rizky Zulham
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved