Sumardi: Lebih Baik Keluarkan 1000 Tahanan, Daripada Menahan 3 Buruh Tak Bersalah

Mereka mencari makan ini meneteskan keringat, mereka 4 bulan ditahan tidak ada partisipasi dan tidak ada kepedulian dari pihak TKBM....

Sumardi: Lebih Baik Keluarkan 1000 Tahanan, Daripada Menahan 3 Buruh Tak Bersalah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ TITO RAMADHANI
Satu di antara kuasa hukum ketiga terdakwa, Sumardi M Noor saat memberikan keterangan pers di sela-sela aksi damai puluhan buruh pelabuhan di halaman Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1 A Pontianak, Kamis (6/4/2017) sore. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Tito Ramadhani

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Satu di antara kuasa hukum ketiga terdakwa, Sumardi M Noor mengharapkan agar sidang kasus hukum yang dihadapi kliennya, dapat digelar sesuai dengan yang telah dijadwalkan sebelumnya.

"Kami sangat menyayangkan dari pihak kejaksaan. Tolong ini diperhatikan, karena mereka ini sekarang kondisinya seperti ini, kami khawatir dan kami tidak menginginkan mereka ini lebih menambah volume lagi di setiap kali sidang, tolong proses sidangnya sesuai dengan jadwal-lah," ungkapnya di sela-sela aksi damai puluhan buruh pelabuhan di halaman Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1 A Pontianak, Kamis (6/4/2017) sore.

Baca: Buruh Angkut Pelabuhan Dwikora Khawatir Terjerat Pungli

Menurutnya, ketiga terdakwa tersebut telah bekerja sesuai dengan ketentuan dan aturan yang ditetapkan TKBM unit R/D.

"Mereka ini adalah korban, kami datang di sini ini membela mereka atas permintaan keluarga dan permintaan mereka atas nama buruh. Dan kami tidak memungut bayaran dengan mereka, kami akan bela menegakkan keadilan untuk kepentingan buruh-buruh yang ada di Pelabuhan Pontianak," ujarnya.

Sumardi mengimbau, agar para buruh yang menggelar aksi damai tersebut, dapat bersabar dan tidak anarkis dalam menunggu proses sidang.

"Kalau dilihat dari BAP (Berita Acara Pemeriksaan) yang ada, ini ada tiga buruh yang dikorbankan. Namun ini ada dua lagi petinggi dari asosiasi buruh yang ada di pelabuhan tersebut, sudah ditetapkan P21. Kami minta kepada penegak hukum yang ada, segera limpahkan kepada kejaksaan untuk dilakukan proses yang sama, karena masyarakat itu kedudukannya di mata hukum adalah sama, lebih baik mengeluarkan 1000 tahanan daripada menahan 3 buruh yang tidak bersalah. Mereka mencari makan ini meneteskan keringat, mereka 4 bulan ditahan tidak ada partisipasi dan tidak ada kepedulian dari pihak TKBM, kami minta pihak TKBM dapat bertanggungjawab atas perintah yang dibuatnya untuk buruh," sambungnya.

Sebelumnya diberitakan, puluhan orang buruh pelabuhan menggelar aksi damai di halaman Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1 A Pontianak, Kamis (6/4/2017) sore.

Aksi damai para buruh ini dengan membawa serta sejumlah poster, di antaranya bertulisan Buruh bukan preman tapi buruh adalah pekerja, Buruh bekerja sesuai aturan TKBM unit R/D, Buruh jangan dikriminalisasi cooy, Lebih baik melepas 1000 tahanan dari pada menahan tiga orang buruh yang tidak bersalah, Pimpinan TKBM unit R/D harus bertanggung jawab secara hukum, Jangan korbankan buruh !!! Hanya untuk kepentingan penguasa.

Para buruh menggelar aksi damai ini, sebagai bentuk solidaritas atas ditangkapnya tiga rekan mereka, yakni Yanuar, Bery Azani dan Januardi alias Wardi dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) tim Satgas Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli) Polda Kalbar di sebuah warung kopi di depan pelabuhan bongkar muat Pelabuhan Dwikora, Jalan Komyos Sudarso, Pontianak pada Sabtu (17/12/2016) sekitar pukul 14.30 WIB.

"Kehadiran para buruh pelabuhan ke sini, sebagai bentuk solidaritas teman, dukungan spontanitas untuk memberikan semangat kepada rekannya yang saat ini menjadi terdakwa, apalagi ini mandornya atau ketuanya ditahan," ungkap Ketua Tim Kuasa Hukum ketiga terdakwa, Uspalino SH di ruang Pos Bantuan Hukum PN Pontianak, Kamis (6/4).

Ada lima orang yang tergabung dalam tim kuasa hukum ketiga terdakwa, yakni Uspalino SH, Sumardi M Noor SH, Roymen Y Pangaribuan SH, Sy Alwi Al Idrus SH dan Raimond F Watalangi SH, yang seluruhnya dari Kantor Hukum ASR dan rekan.

"Kami dipercayakan untuk membela hak-hak dan kepentingan daripada terdakwa, yang mana dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) diduga telah melakukan pemerasan terhadap korban, dari PT Adovelin Raharja. Jadi beliau (terdakwa) ini seolah-olah, dituduh melakukan pemerasan. Padahal, kalau saya lihat berdasarkan dari keterangan terdakwa, mereka ini bukan memeras, namun mereka ini menuntut haknya terhadap tarif atau tagihan barang bongkar muat di pelabuhan," jelasnya.

Penulis: Tito Ramadhani
Editor: Mirna Tribun
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved