Terkait Kabupaten/Kota Layak Anak, Begini Ragam Komentar Para Ibu di Kota Pontianak

Ia mengatakan jika dilihat dari beberapa indikator seperti fasilitas ruang bermain anak masih kurang dan jikapun ada masih kurang memadai.

TRIBUNFILE/IST
Ilustrasi anak-anak. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ridho Panji Pradana

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kota Pontianak telah meraih kategori Pratama pada 2011 dan 2012 yang lalu naik menjadi kategori Madya pada 2014 dan 2015, dan tidak menutup kemungkinan meraih kategori Nindya yang merupakan tingkatan tertinggi di Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA), namun hal tersebut mendapat berbagai komentar dari ibu-ibu di Kota Pontianak yang telah memiliki anak.

Satu diantaranya Donna Youlla, menurut ibu dua anak ini Kota Pontianak belum bisa disebut sebagai Kota Layak Anak.

Ia mengatakan jika dilihat dari beberapa indikator seperti fasilitas ruang bermain anak masih kurang dan jikapun ada masih kurang memadai.

"Membangun fasilitas bermain bagi anak yang mengutamakan keselamatan harapan saya lebih banyak lagi, untuk hak kebebasan anak sudah lumayan dengan adanya kebijakan libur dihari sabtu bagi anak," katanya, Rabu (22/03/2017).

Menurutnya, membuat akses kesehatan bagi anak untuk lebih ditingkatkan terutama anak yang kurang mampu, karena menurutnya pula masih ditemukan anak yang berjualan koran, anak yang nyemir sepatu di Kota Pontianak, kemungkinan besar akses pendidikan dan kesehatan belum terjangkau bagi anak tersebut.

"Perlu penertiban tempat penitipan anak oleh pemkot, karena yang ada sekarang sepertinya kurang layak dari segi kenyamanan dan kesehatan," katanya.

Cahayani Wulandari, ibu yang juga memiliki dua orang anak ini menuturkan Kota Pontianak belum layak menjadi Kabupaten/Kota layak anak karena masih banyak hak anak yang tergadaikan.

"Menurut saya belum layak karena banyak faktor juga sih yang memang belum sepenuhnya dapat diberikan ke anak-anak, jika untk menjadikan kota layak anak harus memenuhi lima klaster dari mentri PPPA sekaligus saya rasa masih jauh, contoh saja dengan ujicoba sekolah 5 hari yang menurut saya dan sebagian orang tua justru memforsir waktu dan tenaga anak-anak didik. Alih-alih supaya hari sabtu bisa digunakan untuk istrahat, mana bisa keseharian anak-anak digantikan dengan satu hari akumulasi," katanya.

Ia mengatakan, satu diantara yang harus dilakukan pemerintah ialah Informasi dan inovasi parenting yang benar, positif dan mendidik bukan hanya segi ilmu pengetahuan tapi juga imtaq, yang perlu digencarkan serta perlindungan anak juga masih minim.

"Emang pemerintah tau anak-anak yang diomelkan emaknye dirumah gegare emaknye kurang dalam ekonomi, tapi pendidikan parenting yang minim bagi orang tua juga banyak faktor, bisa jadi orang tuanya cuma lulus SD, ada juga yang sarjana tapi masih malas cari informasi pengayaan bagaimana membuat anak-anak berkasih sayang," pungkasnya.

Penulis: Ridho Panji Pradana
Editor: Mirna Tribun
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved