Literasi Keuangan Syariah di Kalbar Masih Rendah

Memang masih menjadi PR kita, lantaran literasi keuangan syariah yang masih rendah yakni sebesar 3,64% persen.

Penulis: Tri Pandito Wibowo | Editor: Rizky Zulham
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/MASKARTINI
Kepala OJK Regional Kalimantan Agus Priyanto 

Laporan Wartawati Tribun Pontianak, Maskartini

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Otoritas Jasa Keuangan menilai literasi keuangan masyarakat Kalimantan Barat, namun literasi keuangan syariah di Kalbar masih sangat rendah.

Kepala OJK Regional Kalimantan Agus Priyanto mengatakan hasil penelitian 2016 pihaknya menyebutkan literasi keuangan konvensional Kalbar mencapai 30,55 persen lebih tinggi 1 persen dibandingkan dengan tingkat literasi keuangan secara nasional yang baru sebesar 29,66 persen.

"Memang masih menjadi PR kita, lantaran literasi keuangan syariah yang masih rendah yakni sebesar 3,64% persen. Sementara masyarakat Jakarta sudah mencapai 16,36 persen, Jabar dan DIY masing-masing sebesar 7,79 persen dan 9,45 persen, Sumsel 8,36 persen, Sumut 6,91 persrn, Sumbar 11,64 persen, Riau 8,73 persen, Jateng, 11,17 persen, Bali 1,09 persen, Sulsel 6,18 persen dan Sulut 4 persen," ungkap Agus (9/3/2017).

Baca: Tingkat Literasi Keuangan Kalbar di Atas Rata-Rata Nasional

Agus mengakui untuk meningkatkan literasi keuangan di Kalbar, OJK gencar melakukan sosialisasi dan edukasi. Hasil survei OJK 2016, Kalbar berada di posisi 13 tertinggi di antara provinsi lain untuk tingkat literasi keuangan.

Sementara Kota Pontianak tingkat literasinya mencapai 40,15 persen atau lebih tinggi dari literasi keuangan masyarakat secara nasional.

Pemahaman literasi keuangan Kalbar jika dibandingkan dengan provinsi lain di daerah Kalimantan kata Agus, sejajar dengan masyarakat Kaltim dan melampaui Kalimantan Tengah (Kalteng) yang baru 25,82 persen dan Kalimantan Selatan (Kalsel) yang juga jauh di bawah rata-rata nasional yakni, mencapai 23,27 persen.

Sedangkan provinsi yang memiliki pemahaman literasi keuangan tertinggi yakni Jakarta sebesar 39,64 persen, Jawa Barat sebesar 38,70 persen dan Daerah Istimewa Yogyakarta sebesar 38,55 persen.

Disusul Sumut 32, 36 persen, Sumbar 27,27 persen, Riau 29,45 persen, Sumsel 31,27 persen, Bali 37,45 persen, Jateng 33,51 persen, Sulut 28,73 persen dan Sulsel 28,36 persen.

“Kami menargetkan setiap tahun tumbuh 2 persen. Kita akui meskipun ada pertumbuhan literasi keuangan di masyarakat Kalbar dan provinsi lain namun masyarakat masih belum percaya sepenuhnya untuk membeli produk industri keuangan. Penyebabnya, masyarakat belum sepenuhnya mendapatkan informasi sebanyak-banyak tentang pasar keuangan,"ujar Agus.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved