Mantan TKI Sukses Budi Daya Jamur Tiram, Laba Per Bulan Rp 30 Juta
Bekerja hanya mengumpulkan modal. Tidak ada yang mau menjadi TKI, makanya termotivasi membuka usaha sendiri
Penulis: Tri Pandito Wibowo | Editor: Jamadin
Laporan Wartawati Tribun Pontianak, Maskartini
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Budi daya jamur tiram nampaknya menjadi salah satu usaha yang cukup menjanjikan karena pasarnya masih terbuka lebar. Satu di antara petani modern asal Kota Pontianak yang sudah merasakan manisnya usaha ini adalah Fiya (42) dan sang suami Hermanto (47).
Fiya mengaku lima tahun lalu keduanya hanya miliki 300 baglog jamur. Fiya dan sang suami pernah bekerja di salah satu perusahaan pembudi daya jamur di Khucing Malaysia, bosan menjadi pekerja membuat keduanya terpacu untuk memiliki usaha jamur sendiri.
Saat ini Fiya dan sang suami memiliki 15 ribu baglog jamur merang yang siap dipanen hampir setiap harinya. Perkilonya harga jamur berkisar antara Rp 35 ribu hingga Rp 40 ribu per kilo gram. "Bekerja hanya mengumpulkan modal. Tidak ada yang mau menjadi TKI, makanya termotivasi membuka usaha sendiri," ujarnya pada Senin, (6/3/2017).
Dari hasil jamur yang keduanya budidayakan di kediamannya yang beralamat di Jungkat, Kawasan Jungkat Beach nomor 1, keduanya meraup laba hingga Rp 30 juta rupiah perbulannya. "Hasilnya mrnjanjikan, harga jamur saja Rp 40 ribu sekilo. Khasiatnya banyak sebagai pengganti daging. Pasarnya memang untuk segmen menengah keatas,"ujarnya.
Siapa sangka dibalik suksesnya usaha jamur yang mengangkat perekonomian keluarga tersimpan sejuta cerita duka. Keduanya yang pernah menjadi TKI tepatnya 10 tahun silam rela bekerja menjadi buruh di Khucing untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Pernah merasakan suka duka menjalani pahitnya kehidupan, membuat Fiya tak pelit ilmu. Ia yang sudah pernah mendalami teknik membudidaya jamur hingga ke China ini siap berbagi tips sukses memulai bisnis jamur.
"Semuanya dimulai dari nol hingga sekarang laba mencapai Rp 30 juta per bulan, kita bukan berlatar belakang petani jamur. Makanya saya ingin pembudi daya jamur di Pontianak bisa sharing. Tujuan saya agar sama-sama maju dan berkembang kedepannya,"ujarnya.
Meski memiliki rumah, kendaraan dan laba ratusan juta dari hasil kerjanya Fiya dan Hermanto tak pernah berbangga. Fiya hingga saat ini juga tetap aktif membina beberapa pelaku UMKM pemula yang tergabung di bawah Putri Cendawan. Meski bisa menghandle semuanya bersama sang suami, namun Fiya tetap memberdayakan masyarakat sekitar untuk terlibat mengurus beberapa usahanya.
Ditanya alasannya, dengan tegas Fiya menjawab bahwa berbagi tak membuat seseorang kekurangan. Ia pun mengingat masa-masa sulit, bahkan sang suami mengaku semua pekerjaan pernah ia lakoni mulai dari mengangkut sampah hingga menjadi tukang las.
Demi membangun rumah yang saat ini menjadi tempat usahanya, Fiya juga mengaku sering bekerja tanpa jeda dan hanya tidur sejam setiap harinya. Memiliki enam anak yang yang membutuhkan biaya, bahkan sebelum ke Malaysia keduanya pernah merantau ke Bandung dan beberapa kota lainnya.
Mulai dari berjualan bubur, menjajakan sayur hingga kue tradisional pernah Fiya lakukan. Kerasnya hidup membuatnya menjadi pribadi yang senantiasa berbagi. Baru-baru ini Fiya juga membuat program budi daya jamur dengan tongkos yang hasilnya digunakan untuk pemberdayaan dan ditujukan untuk kegiatan sosial.
Berbekal ilmu yang ia dapatkan teknik membudi daya jamur ia tularkan kepada kolompok. Selain membina dengan memberikan bibit gratis, Fiya juga menjual baglog dengan harga yang sangat terjangkau yaitu Rp 7 ribu. Ia pun siap menerima konsultasi bagi yang belum mengerti.
"Usaha budi daya jamur sebenarnya sangat menjanjikan. Untuk produksi kripik saja selalu kekurangan. Makanya saya mengajak yang tertarik membudi daya jamur untuk memanfaatkan peluang pasar yang terbuka lebar, hasilnya saya beli kembali,"ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/hermanto-tunjukkan-jamur_20170307_202234.jpg)