Harapan Investasi dari Arab Saudi

Apalagi sebelumnya pemerintah Arab Saudi telah membuka kembali kran tambahan kuota haji kita yang sempat dikurangi.

Penulis: Hasyim Ashari | Editor: Jamadin
HIDAYATULLAH.COM
Raja Saudi Salman bin Abdulazis al-Saud 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Dalam beberapa hari ke depan, pemerintahan Jokowi bakal supersibuk. Tentunya itu bukan soal bakal adanya demo besar-besaran lagi atau soal hak angket yang kini digagas para wakil kita di parlemen. Kesibukan bakal menjarah hampir semua lini di pemerintahan Jokowi atas rencana kedatangan tamu dari Kerajaan Arab Saudi.

Ya, seperti yang diwartakan banyak media, Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz al Saud bakal berkunjung selama beberapa hari di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, raja di negara superkaya di jazirah Arab itu bakal memboyong sekitar 1.500 orang, termasuk 10 menteri dan 25 pangeran, yang bakal melakukan wisata di beberapa tempat di Indonesia, khususnya Pulau Bali.

Selain berwisata, tentunya ini yang menarik, dan ini memang sangat ditunggu-tunggu pemerintah kita, bahwa Raja Salman bin Abdul Aziz al Saud akan membenamkan uangnya dalam berbagai proyek pembangunan. Khususnya infrastruktur di Indonesia yang nilainya mencapai 25 miliar dolar atau setara Rp 332,5 triliun! Ini adalah investasi paling besar dari negara luar untuk Indonesia selama ini.

Sebelumnya, berdasar catatan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Arab Saudi masih berada di jajaran papan tengah daftar peringkat negara yang menanamkan modalnya di Indonesia nilai investasi hanya 34 juta dolar periode 2010 hingga 2015. Bahkan, negara petro dolar itu sepanjang 2015, masih menempati peringkat ke-22 dengan nilai hanya Rp 1,6 triliun.

Sementara sepanjang tahun 2016 realisasi investasi Arab Saudi di Indonesia hanya 900 ribu dolar AS atau Rp 11,9 miliar untuk 44 proyek. Realisasi itu sangat jauh dibanding realisasi investasi dari negara Timur Tengah lainnya seperti Kuwait yang mencapai 3,6 juta dolar AS.

Kita tentu berharap investasi kakap dari Arab Saudi sebesar 25 miliar dolar AS itu benar-benar direalisasikan sehingga pembangunan di negeri ini bisa benar-benar bisa dilihat dari wujud yang sebenarnya. Dan, apa yang ditanamkan pemerintah Arab Saudi itu telah menenggelamkan jumlah investasi China yang hanya 1,6 miliar dolar per 10 Januari 2017.

Dan, yang perlu pula kita cermati, meski dengan nilai investasi yang besar, Arab Saudi tidak akan mengirimkan tenaga kerja seperti yang selama ini dilakukan oleh China. Artinya, investasi yang diberikan Arab Saudi benar-benar dana untuk modal kerja.

Kita tidak apriori dengan model kerja sama (investasi) dengan negara-negara pemodal. Namun kita juga tentu tidak ingin terus direcoki oleh persoalan-persoalan terkait keimigrasian sebagai akibat hubungan kerja sama denga negara luar, khususnya China yang selama ini kerap kita rasakan.

Yang pasti kita bisa memahami mengapa Arab Saudi ingin bekerja sama dengan Indonesia --yang memiliki umat Islam terbesar di dunia. Selama ini, Indonesia selalu memiliki tempat khusus di mata Kerajaan Arab Saudi.
Apalagi sebelumnya pemerintah Arab Saudi telah membuka kembali kran tambahan kuota haji kita yang sempat dikurangi.

Dan, tentunya kita berharap dari pembicaraan bilateral kedua negara kembali dibahas persoalan haji, sehingga jumlah calon haji kita bisa kembali ditambah, sehingga tidak harus antre hingga belasan atau puluhan tahun.

Pendek kata, kehadiran Raja Arab Saudi di negeri ini memiliki makna penting bagi pemerintahan Jokowi bagaimana memandang kebijakan politik ekonominya lurus ke depan, tidak perlu terlalu lama menoleh ke kiri atau ke kanan. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved