2 WNI yang Tertahan 40 Hari di Arab Saudi Tiba di Tanah Air, Ini Kisahnya

Umi berinisiatif menemukan Triningsih. Umi meninggalkan kopernya begitu saja demi menemukan saudaranya.

2 WNI yang Tertahan 40 Hari di Arab Saudi Tiba di Tanah Air, Ini Kisahnya
SURYA/GALIH LINTARTIKA
Berlina Marganita (kiri) mencium tangan sang ibu, Umi Widayani Djasmadi, Kamis (23/2/2017), yang akhirnya diizinkan pulang ke Indonesia setelah 1,5 bulan ditahan di Jeddah karena bercanda soal bom di pesawat. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PASURUAN - Setelah tertahan 40 hari di Arab Saudi lantaran mengucapkan kata bom di pesawat, kepulangan ke Tanah Air merupakan momen yang sangat istimewa bagi Triningsih Kamsir Warsih (50) dan Umi Widayani Djaswadi (56).

Namun di menit-menit terakhir, Triningsih justru menghilang.

Peristiwa menegangkan itu terjadi di ruang tunggu di Bandara King Abdul Aziz di Arab Saudi, Rabu (22/2/2017) malam waktu setempat.

Triningsih menghilang sekitar lima menit menjelang batas waktu boarding atau waktu naik ke pesawat.

Jika waktu boarding habis, maka pintu pesawat ditutup.

Penumpang yang terlambat masuk ke pesawat, risiko terbesarnya adalah ditinggal dan harus naik penerbangan berikutnya.

Baca: Tangga Khusus Pesawat Raja Arab Saudi Tiba di Halim, Ini Bentuknya

Umi menyadari Triningsih "menghilang" saat petugas bandara menyampaikan pengumuman yang isinya penumpang pesawat Garuda Indonesia dimohon segera naik ke pesawat karena waktu boarding sudah hampir berakhir.

"Waktu kurang 5 menit. Koper ada tapi orangnya tidak ada," kata Umi kepada Surya (Tribunnews Group) di Sidoarjo, Jatim, Kamis (23/2/2017).

Umi berinisiatif menemukan Triningsih. Umi meninggalkan kopernya begitu saja demi menemukan saudaranya.

"Saya cari-cari ternyata Triningsih sedang duduk di pinggir (dinding) kaca dan melihat-lihat suasana bandara," ungkap Umi.

Umi mengaku, saat itu dia langsung menyeret Triningsih, lalu mengambil koper dan bergegas masuk ke pesawat.

"Untung kami tidak tertinggal pesawat. Saya sempat degdegan khawatir tertinggal pesawat dan kami gagal pulang lagi," katanya.

Umi dan Triningsih adalah dua jemaah umrah asal Jawa Timur yang mengalami masalah di Bandara King Abdul Aziz.

Baca: Raja Saudi Kunjungi Indonesia, 20 Pesawat Angkut Rombongan dan Bawaan

Mereka harus menjalani pemeriksaan berhari-hari karena mengucapkan kata 'bom' ketika menjawab pertanyaan pramugari.

Peristiwa itu terjadi ada 11 Januari 2017 malam. Saat itu, satu rombongan jemaah umrah dari Jawa Timur, telah masuk ke dalam pesawat Royal Brunei Airlines yang akan membawa mereka pulang ke Tanah Air.

Umi, Triningsih, dan dua kerabatnya merupakan bagian dari rombongan yang memulai perjalanan umrah pada 31 Desember 2016.

Saat Triningsih menata tas, seorang pramugari datang dan membantu. Pramugari itu juga menanyakan isi tas Triningsih.

Umi yang berada di sebelah Triningsih, spontan menjawab pertanyaan tersebut.

"Kalau dari Arab ya bawa oleh-oleh, masa bawa bom," celetuk Umi dalam bahasa Indonesia.

Umi mengaku, saat itu dia hanya memberikan jawaban bernada canda. Bukan bermaksud menebar ancaman.

Pramugari menanggapi serius ucapan Umi. Dia melapor ke pilot dan pilot meneruskannya ke petugas keamanan.

Penerbangan itu ditunda. Seluruh penumpang diminta turun ke ruang tunggu. Sedangkan Umi dan Triningsih dibawa ke ruangan terpisah untuk menjalani pemeriksaan oleh petugas keamaan.

Pemeriksaan ulang terhadap pesawat pun dilakukan. Sekitar 15 jam kemudian, pesawat dinyatakan aman dari bom ataupun bahan berbahaya lainnya. Pesawat itu pun boleh terbang ke kota tujuan.

Namun, Umi dan Triningsih tetap harus menjalani pemeriksaan. Bahkan, kedua perempuan bersaudara itu sempat dikirim ke penjara wanita di Jeddah.

"Saya di sana berkumpul dengan orang-orang Indonesia. Saya bisa saling curhat satu sama lain," katanya.

"Di dalam penjara saya tidak bermasalah. Makan dan minum terjamin," imbuhnya.

Umi sangat senang ketika petugas menyatakan bahwa dia dan Triningsih tidak bersalah dan dibebaskan.

"Sangat senang sekali. Bahkan, saya langsung sujud syukur saat ada kabar saya dan Bu Tri dinyatakan tidak bersalah dan diperbolehkan pulang," katanya.

Saat Umi dan Tri dinyatakan bebas, visa mereka telah berakhir masa berlakunya. Alhasil, keduanya tidak bisa segera pulang.

"Makanya kami harus mengurusnya terlebih dahulu untuk bisa pulang ke Indonesia," ujar Umi.

Umi merasa sangat senang ketika menginjakkan kaki kembali di rumahnya di Jalan Bendosoli, Desa Pogar, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur.

"Yang paling saya kangeni ya suasana rumah ini," katanya.

Umi juga kangen kepada lima cucunya.

"Saya juga kangen sama cucu-cucu saya. Di sana saya tidak bisa lihat apa-apa selain ibadah salat dan ngaji," Umi menambahkan sambil terus bersyukur bisa pulang ke Indonesia.

Umi mengaku mendapat pengalaman yang sangat berharga dari peristiwa yang telah dialaminya.

"Saya jadikan pelajaran penting di dalam hidup saya untuk lebih berhati-hati dalam berbicara," katanya.

Editor: Marlen Sitinjak
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved