Pemprov Kalbar Siapkan Benih Padi Premium

Dari kementerian dan dinas pertanian mengembangkan padi ke arah premium atau spesial tirais...

Pemprov Kalbar Siapkan Benih Padi Premium
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/NINA SORAYA
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ridhoino Kristo Sebastianus Melano

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kepala Unit Perbanyakan Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalimantan Barat, Anton Kamaruddin mengatakan pihaknya menyiapkan varietas unggul untuk benih padi.

Penyiapan benih ini sebagai cara untuk mendukung program ekspor beras Kalbar ke Malaysia. Ditargetkan ekspor beras dilakukan pada Oktober 2017 yang bertepatan dengan hari pangan.

Namun selain karena dipersiapkan untuk ekspor. Penggunaan benih unggulan juga bisa membuat beras asal Indonesia tidak kalah dengan negara lain.

“Dari kementerian dan dinas pertanian mengembangkan padi ke arah premium atau spesial tirais. Maksudnya agar bisa bersaing. Kita tahu, beras tidak hanya dari Indonesia, negara lain juga banyak dan harganya lebih murah,” katanya, Rabu (15/2/2017).

Baca: 31 Pasien Rumah Sakit Abdul Aziz Singkawang Gunakan Hak Pilihnya

Varietas unggul yang disiapkan, menurut Anton seperti IPB3S dan situ patenggang yang dikenal berbau harum. Selain premium benih ini juga cocok untuk daerah yang minim air. Sebut saja seperti di Kota Singkawang.

Meski dalam kondisi kekeringan benih ini bisa memberikan hasil yang optimal. Selain itu benih ini juga tahan terhadap penyakit blas. Namun Anton tak menampik kelemahan pada benih ini.

Yakni mudah roboh. Karena itu ia menyatakan perlu diperkuat dengan aplikasi silika. Baik yang dibuat petani sendiri menggunakan arang sekam atau yang disemprotkan ke aplikasi tanam.

“IP3S sudah disiapkan. Termasuk di penangkar juga sudah mulai. Masalah budidaya akan singkronkan dengan badan proteksi dan sertifikasi benih. Sehingga kebutuhan bisa terpenuhi,” paparnya.

Untuk benih dipersiapkan sesuai dengan kebutuhan lahan. Sementara dalam teknik tanam ala hazton benih yang dibutuhkan 100 kilo perhektarnya. Jumlah benih yang dibutuhkan memang lebih banyak dari cara tanam konvensional.

Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano
Editor: Rizky Zulham
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved