Berpikir Jernih Tentukan Pilihan
Kita semua tentu mengharapkan agar pesta demokrasi di tingkat daerah itu berjalan dengan baik dan menghasilkan pemenang yang berkualitas
Penulis: Ahmad Suroso | Editor: Jamadin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Rabu hari ini, 15 Februari 2017 sebagian rakyat Indonesia di 101 daerah akan memilih kepala daerah. 101 Daerah itu terinci, di tujuh provinsi untuk memilih gubernur dan wakil gubernur, 76 kabupaten untuk memilih bupati dan wakil bupati, serta 18 kota untuk memilih wali kota dan wakil wali kota. Dua daerah di antaranya di Kota Singkawang, dan Kabupaten Landak.
Kita semua tentu mengharapkan agar pesta demokrasi di tingkat daerah itu berjalan dengan baik dan menghasilkan pemenang yang berkualitas. Kita patut mensyukuri bahwa perjalanan penyelenggaraan pilkada sampai dengan sehari sebelum pelaksanaan pencoblosan hari ini berjalan lancar tanpa ada konflik yang menonjol. Kalaupun ada ketegangan, kita semua tahu, itu hanya terjadi di DKI Jakarta.
Pilihan itu akan menjadi pertaruhan rakyat dalam lima tahun, apakah akan hidup semakin sejahtera atau justru sebaliknya, menjadi semakin sengsara. Untuk mendapatkan pemimpin yang berkualitas dan bersih, koran ini mengimbau para pemilih memberikan suara kepada calon tertentu dengan perhitungan yang jernih, rasional untuk menentukan kandidat yang mampu mengemban amanah dan mandat rakyat.
Rakyat sebaiknya berpikir jernih dan mencoba menggali rekam jejak serta integritas pasangan calon. Integritas adalah kata yang sering dan memang layak digunakan untuk menilai kualitas yang sesungguhnya dari seseorang. Terlebih lagi bila orang tersebut merupakan calon pemimpin atau pemimpin.
Sebagai contoh, dalam berbagai ajang kampanye calon pemimpin, sering ditemui secara pengetahuan, kemampuan, maupun visi kualitas calon kepala daerah hanya berbeda tipis. Namun, ketika para kandidat tersebut diukur berdasarkan integritasnya, nampak perbedaannya. Selain sebagai ukuran pembeda, integritas juga diyakini akan memberikan pengaruh besar terhadap kemajuan institusi.
Pengetahuan, keahlian dan visi memang diperlukan. Namun, tanpa integritas, semua itu hanyalah hiasan yang bisa jadi dimanfaatkan untuk mengelabui rakyat. Karena, seperti sudah menjadi suatu keharusan dalam berbagai ajang pemilihan pemimpin, isu-isu terkait integritas biasanya merebak. Mulai dari hal-hal kecil seperti ucapan dan tindak tanduk hingga hal-hal besar seperti standar moral atau bahkan skandal.
Masyarakat hendaknya jangan hanya mendengarkan janji, terlebih janji yang muluk-muluk. Sebab mereka yang mengumbar komitmen selangit biasanya cepat melupakan niatnya. Terkait penelusuran rekam jejak, mereka yang telah membuktikan saat berkuasa tidak menyalahgunakan kekuasaan pantas mendapat kepercayaan dari rakyat mengelola kekuasaan.
Berikutnya, pemilih jangan hanya percaya kepada perilaku santun, memelas, muka manis, merengek, atau merasa dizalimi. Menghadapi kandidat model begini justru kudu lebih ekstra hati-hati. Bukan mustahil dibalik perilaku yang memikat itu sekadar cara menutup inkompetensinya.
Menurut peneliti senior CSIS, J Kristiadi dilansir Kompas, 14 Februari 2017, justru politik semacam itu sebetulnya kejam karena mereka dengan topeng kesantunan sedang melakukan siasat cerdik untuk memanipulasi kepolosan, ketulusan, dan kesederhanaan masyarakat yang kurang paham kejamnya politik kekuasaan. Rakyat yang merindukan hidup sejahtera mudah terbius rayuan politisi bertopeng.
Semoga saja rakyat, khususnya masyarakat Kota Singkawang dan Kabupaten Landak makin cerdas dalam memilih calon pasangan yang akan memimpin daerahnya untuk lima mendatang. Tidak mudah terbuai bujuk rayu, termasuk money politic yang mungkin terjadi, informasi kampanye negatif yang mungkin menyebar di media sosial. Tentukan pilihan berdasarkan suara hati nurani. Selamat mencoblos. (*)