Suslamanto: Industri Pariwisata Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru

Rekomendasi kami, fokus yang bisa dijadikan yaitu spesifikasi pariwisata budaya, interkoneksi harus diperkuat

Penulis: Tri Pandito Wibowo | Editor: Jamadin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / MASKARTINI
Suasana Focus Group Discussion Bank Indonesia bersama Bisnis Indonesia 

Laporan Wartwan Tribun Pontianak, Maskartini

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK  - Kepala Kantor Perwakilan Wilayah (KPw) Bank Indonesia, Dwi Suslamanto mengatakan sektor pariwisata bisa menjadi tulang punggung perekonomian suatu daerah apabila digarap maksimal. Hal tersebut menjadi alasan kata Dwi kenapa BI menggelontorkan dana ratusan juta untuk mendukung pengembangan wisata seperti Mempawah Mangrove Center dan beberapa program wisata lainnya.

Berawal dari world bank dengan 4 kriteria negara yang berkembang yang harus memiliki pertumbuhan ekonomi yang kuat, dalam artian kata Dwi tidak fluktuatif. Kedua kata Dwi harus balance, sedangkan Indonesia dan Kalbar khususnya ia melihat masih timpang lantaran peran konsumsi sangat tinggi.

Ketiga kriteria yang harus dimiliki kata Dwi yaitu inklusifitas yang lebih menekankan pada pendapatan. Kota Pontianak sendiri kemiskan kata Dwi masih berkisar 4,97 persen. Tak kalah penting, pertumbuhan ekonomi harus berwawasan pada lingkungan dan pariwisata kata Dwi adalah jawabannya.

"Solusi paling tepat itu memang di sektor pariwisata. Itu tugas BI ingin UMKM tumbuh, barang kebutuhan banyak yang bisa dijual otomatis inflasi tidak terlalu tinggi. Solusinya adalah pariwisata, level manapun bisa masuk ke mana pun. Salary akan berjenjang itu. Awal 2016, BI seluruh Indonesia bank memetakan riset pariwisata, adi kami fokus ke Kalimantan karena kondisi pariwisata masih rendah,"ujar Dwi pada Selasa, (7/2/2017).

Jumlah wisatawan mancanegara ke Kalbar, sisi lain kata Dwi alokasi APBD untuk sub sektor pariwisata juga masih rendah. Diakui Dwi potensi pariwisata di Kalbar sangat besar. "Rekomendasi kami, fokus yang bisa dijadikan yaitu spesifikasi pariwisata budaya, interkoneksi harus diperkuat,"ujarnya.

Kontribusi pariwisata Kalimantan terhadap pertumbuhan ekonomi kata Dwi juga masih rendah dengan kisaran 1,17 persen. Baik wisnus maupun wisman kata Dwi juga masih relatif kecil. Penyebabnya salah satunya belum populernya pariwisata di Kalimantan. Oleh karenanya akses media kata Dwi menjadi penting sebagai indikator pengunjung ke Kalbar.

Apalagi saat ini kata Dwi banyak flight langsung ke Pontianak. "Nah yang memungkinkan kita kerjasama dengan ASITA provinsi lain yang memiliki penerbangan langsung. Ada flight langsung ke Kalbar, jadi momennya di paskan. Strateginya pengembangannya yaitu wisata sejarah, budaya dan etnik, pengembangan akses, fasilitas dan infrastruktur penunjang serta kerjasama biro perjalanan,"ujar Dwi.

Dwi pun membenarkan apa yang dikatakan Walikota, dimana wisata tidak hanya hanya terbatas dalam bentuk wisata alam atau budaya, tetapi juga wisata prestasi. Contoh kata Dwi, 2 tahun berturut TPID menjadi juara 1 nasional, dan pengunjung minimal stay di Pontianak selama 3 hari.

"Ini juga menjadi penting, mengingat Kota Pontianak yang juara 1 jadi memancing orang untuk menginap, hunian hotel akan ramai. Faktor keamanan menjadi penting juga, dalam mempengaruhi tingkat kunjungan wisatawan,"ujar Dwi.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved