Miris, Situs Bersejarah di Bukit Kalang Bahu Sambas Rusak Parah
Ketika didatangi oleh rombongan BEM F. Ushuluddin dan Peradaban, kondisinya sungguh memprihatikan.
Penulis: Zulfikri | Editor: Rizky Zulham
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Raymond Karsuwadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS - BEM Fakultas Ushuluddin dan Peradaban datangi Bukit Kalang Bahu, Jawai Selatan, Kabupaten Sambas, Minggu (5/1/2017).
Benteng atau kubu yang terdapat di Bukit Kalang Bahu, Jawai selatan terdapat tiga titik, satu di antaranya berada tepat mengarah ke mulut muara sungai Sambas.
Benteng ini digunakan sebagai tempat pengintaian kapal-kapal yang masuk ke sungai Sambas.
Ketika didatangi oleh rombongan BEM F. Ushuluddin dan Peradaban, kondisinya sungguh memprihatikan, dua diantaranya sudah rusak parah, dan yang paling parah adalah situs yang terletak tepat berhadapan dengan Bukit Penibungan dan merupakan situs terakhir jika dihitung dari muara sungai Sambas Besar.
Baca: Petani Desa Sepinggan Berhasil Tingkatkan Hasil Panen
Hanya satu situs yang masih utuh, walau bagian atasnya sudah ditumbuhi tanaman pakis dan kayu, sementara kondisi didalam bangunan penuh tergenang oleh air. Hal yang paling miris adalah banyaknya tulisan-tulisan tidak jelas yang dibuat oleh pengunjung sebelumnya.
Medan yang menjadi jalur ke situs dapat ditempuh melalui jalur darat dan laut dengan menaiki perahu motor, jika jalur itu dipilih maka akan sampai pada lokasi sekitar 10-20 menit, sementara jika jalur darat yang dipilih dari markas navigasi, maka kita akan menelusuri bibir pantai mengarah ke selatan dengan kisaran waktu satu jam jika kondisi air sedang surut.
Akan tetapi pada saat Rombongan Mahasiswa Fakultas Ushuludin dan Peradaban melakukan penelusuran, air laut sedang pasang naik, sehingga terpakna menggunaka medan yang cukup terjal, beberapa medan ada yang turunan dan menanjak hingga 90 derajat pada bebatuan yang terdapat Bukit Kalang Bahu menuju lokasi. Jarak tempuh yang semula diprediksi selama satu jam, menjadi dua jam perjalanan.
Kondisi perjalanan demikian ternyata menambah keseruan penelusuran jejak kolonial Belanda, hingga beberapa orang Mahasiswa sontak menyebut daerah ini sangat cocok untuk melaksanakan panjat tebing alami sebagaimana yang disampaikan Novi satu diantara mahasiswi, bahwa kegiatan ini sangat menyenangkan, menantang dan yg paling utama menambah ilmu pengetahuan.
Situs yang dituju ketika diperiksa oleh Mahasiswa, tidak terdapat tulisan atau tanda-tanda yang menunjukkan kapan bangunan tersebut didirikan, termasuk ketika ditelusuri melalui catatan yang dibuat kolonial mereka masih belum menemukannya.
Dalam hal ini Sunandar sebagai Dosen Pembimbing memprediksikan bahwa bangunan tersebut dibuat pada awal abad ke-19, hal itu didasarkan pada bangunan yang dibuat oleh Kolonial Belanda yang terdapat di Bukit Penibungan Pemangkat, tepatnya pada situs Obos atau Sorg.
Dimana kedatangan Sorg ke Pemangkat adalah untuk menumpas pemberontak Cina, sementara itu daerah Pemangkat telah didominasi oleh para pemberontak tersebut sangat dimungkinkan daerah BOOM (pelabuhan) yang kini disebut pelabuhan PELNI juga dikuasai, sehingga Sorg harus berupaya melakukan pengintaian terhadap para pemberontak tersebut.
Lokasi yang sangat strategis adalah daerah seberang yakni Kalang Bahu. Dengan demikian, jika melihat tahun pembangunan di Bukit Penibungan sebagai patokan, maka umur bangunan tersebut adalah 167 tahun.
Ketika penelusuran dilakukan, mahasiswa didampingi oleh aparat Desa Jawai Laut Dusun Kalang Bahu yaitu Bapak Ihwal yang lebih dikenal dengan Bang Kewal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/bukit-kalang-bahu_20170205_193618.jpg)