Melalui Program GTT, Samuel Harap Warga Landak Rasakan Pendidikan Merata

Karena dari 13 kecamatan yang ada di Kabupaten Landak, masih ada sekolah-sekolah yang jarak tempuh atau lokasinya jauh masuk ke dalam.

Melalui Program GTT, Samuel Harap Warga Landak Rasakan Pendidikan Merata
TRIBUNPONTIANAK/WAHIDIN
Satu di antara Guru Tidak Tetap (GTT) yang mengajar di SMK Negeri 1 Ngabang, Samuel Spd. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Wahidin

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, LANDAK - Satu di antara peserta Program Guru Tidak Tetap (GTT) yang mengajar di SMK Negeri 1 Ngabang, Samuel mengharapkan dengan adanya program GTT dapat membuat masyarakat di Kabupaten Landak merasakan pendidikan secara merata.

"Semoga dengan adanya program GTT ini pendidikan bisa dirasakan merata oleh semua masyarakat, bukan hanya di kota namun juga wilayah terpencil di Kabupaten Landak ini. Karena penempatan GTT kan disesuaikan lagi sehingga merata," jelasnya kepada Tribun Pontianak, Rabu (18/1/2017) siang.

Lanjutnya bahwa di Kabupaten Landak memang masih banyak sekolah yang tertinggal.

Karena dari 13 kecamatan yang ada di Kabupaten Landak, masih ada sekolah-sekolah yang jarak tempuh atau lokasinya jauh masuk ke dalam.

Alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Pendidikan Teknik Mesin ini juga menyatakan rasa terima kasih terhadap pemerintah Kabupaten Landak yang telah memfasilitasi beasiswa selama dirinya kuliah.

Untuk itu, dengan menjadi Guru Tidak Tetap (GTT) sejak tahun 2014, ia ingin menunjukan pengabdiannya pada daerajmh asalnya.

Saat ini ia menjadi GTT di SMK Negeri 1 Ngabang sebagai Guru Produktif Jurusan Teknik Kendaraan Ringan.

"Dari gaji memang berbeda sekali dengan yang di struktural. Namun karena memang kita sudah dibeasiswakan oleh pemerintah kita harus ada tujuan mulia untuk mencerdaskan masyarakat di Kabupaten Landak," jelasnya.

Kemudian ia juga mengungkapkan suka sukanya selama menjadi guru.

"Dukanya hanya masalah gajih dan fasilitas sekolah, misalnya di SMK tempat saya mengajar sudah membuat video pembelajaran tetapi saat kita mau ajarkan terkadang infocusnya tidak ada," ujarnya.

Untuk itu, ia tidak berharap muluk-muluk.

Sama seperti negara tetangga Malaysia yang gurunya hidup sejahtera.

Karena tanpa seorang guru tidak mungkin seseorang bisa menjadi berhasil.

Penulis: Wahidin
Editor: Mirna Tribun
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved