Berita Video

Buka Konferwil, Ini Pesan Ketua NU Kalbar

Dengan adanya landasan agama, manusia sebagai subjek pembangunan tentunya akan mampu beradaptasi dengan segala perbedaan yang ada

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Muhammad Fauzi

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KAYONG UTARA  - Ketua PWNU Dr M Zeet Hamdy Assovie dalam kata sambutannya pada pembukaan Konferwil NU Kalbar ke 7 di Kayong Utara mengatakan saat ini banyak permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat.

Menurut dia, berbagai hal yang terjadi menurutnya sangatlah kompleks dan tenntunya harus di pikirkan bersama.

“Permasalahan-permasalahan ekonomi dan sosial yang cukup kompleks terkait dengan degradasi moral, penggunaan narkoba, kemiskinan, kebodohan dan kriminalitas. Masalah lingkungan hidup dan munculnya paham radikalisme dan terorisme yang mengatasnamakan agama serta intoleransi antar umat beragama. Berkenaan dengan hal tersebut pembinaan dan pembangunan di bidang agama dan pendidikan mempunyai peran yang amat penting sebagai intergal dari upaya meletakan landasan moral dan spiritual yang kokoh bagi pelaksanaan pembangunan daerah,” jelas Dr M Zeet Hamdy Assovie, saat membacakan sambutan Gubernur Kalbar, Cornelis, Jumat (13/1/2017).

Dengan adanya landasan agama, manusia sebagai subjek pembangunan tentunya akan mampu beradaptasi dengan segala perbedaan yang ada, karena sebuah perbedaan bukanlah sebuah masalah, namun perbedaan semakin membuat Indonesia besar, dan kokoh.

“Dengan demikian diharapkan manusia sebagai subjek pembangunan akan mampu menempatkan diri dalam keselarasan keseimbangan dan keserasian antara hidup manusia satu dengan yang lainnya di dalam masyarakat dan dengan lingkungannya,” terangnya.

Indonesia yang kaya dengan Budaya, Ras, Etnis menurutnya sangat rawan dengan sebuah gesekan, sehingga berujung konflik. Kalbar sendiri mencatat konflik yang terjadi di Kalbar cukup menyisakan luka yang mendalam bagi seluruh masyarakat, karena akibat konflik ini tidak heran harus dibayar dengan nyawa, sehingga hal ini tentu menjadi pelajaran yang berharga. Diharapkan setiap permasalahan yang muncul, agar dapat di redam, dan diselesaikan tanpa harus menimbulkan gesekan yang dapat menyebabkan korban.

“Indonesia sebagai negeri multikultural yang memiliki keanekaragaman baik dalam bahasa suku ras atau etnis dan dan agama yang rentan terjadinya konflik. Kalbar sendiri mempunyai sejarah panjang dengan konflik, antar kelompok yang di mana disertai dengan kekerasan sehingga mengakibatkan korban jiwa. Kalbar tidak ingin terjebak dalam konflik bentuk apapun oleh karena itu peristiwa yang terjadi saat ini terutama masalah kerukunan antar umat beragama, agar permasalahan tersebut dapat diselesaikan dan tidak terjadi di Kalimantan Barat yang saat ini sudah sangat kondusif,” harapnya.

“Di negara yang sarat keragaman ini hendaknya kita bisa saling menghormati, toleransi terhadap perbedaan dan tidak serta merta mengecam kelompok lain hanya sebab karena sebuah perbedaan semata. toleransi bukanlah berarti seseorang harus mengorbankan kepercayaan dan prinsip yang dianutnya tapi toleransi berarti harus bisa menghargai pihak lain, baik pemikiran, gagasan ataupun kepercayaannya. karena agama apa pun di bumi ini tidak ada yang mengajarkan untuk melakukan kekerasan,” tuturnya.

Lanjutnya, Nahdlatul Ulama mempunyai sejarah panjang dalam kemardekaan Indonesia, sehingga menurutnya, Provinsi Kalimantan Barat sangat membutuhkan dukungan dari NU, ulama, tokoh masyarakat dan lain sebagainya.

“Sejarah telah mencatat bahwa Nahdlatul Ulama warisan pejuang kemerdekaan terlahirnya Republik Indonesia dan setia menjaga Pancasila dalam bingkai Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai organisasi terbesar, NU di pandang mampu mempertahankan dan menyeimbangkan antara kekuatan tradisionalisme dan budaya modern mempertahankan kearifan tradisi, kemampuan modernenitas dengan mengedepankan nilai-nilai Islam yang moderat," jelasnya.

Penulis: Muhammad Fauzi
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved