Pedagang Cabai Curigai Ada Permainan Agen

Stok dari agen memang kurang sejak beberapa hari menjelang Natal sampai sekarang.

Penulis: Maudy Asri Gita Utami | Editor: Jamadin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / WAHIDIN
Satu di antara pedagang sayur di Pasar Rakyat Kabupaten Landak, Viswana saat melayani pembeli cabai rawit, Minggu (8/1/2017) pagi. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Wahidin

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, LANDAK - Harga cabai yang tak kunjung normal di Pasar Rakyat Kabupaten Landak membuat para pedagang mencurigai adanya permainan agen dalam pendistribusian stok cabai ke Landak.

Satu di antara pedagang sayur yang sudah 10 tahun terakhir berjualan di Pasar Rakyat  Landak, Viswana mengaku sejak mulai mendekati Hari Raya Natal sampai saat ini memang terjadi pengurangan pendistribusian stok cabai dari agen.

"Stok dari agen memang kurang sejak beberapa hari menjelang Natal sampai sekarang. Saya takutkan ini memang permainan agen, karena kalau jumlah terbatas sementara permintaan tinggi, tentu harganya semakin tinggi," jelasnya kepada Tribun Pontianak, Minggu (8/1/2017) pagi.

Cabai yang ia jual berasal dari beberapa agen, di antaranya dari Pontianak, Singkawang, dan Sanggau Ledo. Diakuinya seminggu seusai Hari Raya Natal harga cabai memang mulai mengalami penurunan, namun masih jauh dari harga normal.

"Cabai rawit yang paling tinggi naiknya, pas dekat Natal harganya mencapai 150 ribu, sekarang sudah turun jadi 120 ribu, tapi harga normalnya sebelum natal hanya 60 ribu saja. Untuk cabai lainnya seperti cabai keriting dan hijau hanya naik kisaran 10-20 ribu. Cabai keriting saat ini harganya 100 ribu, namun normalnya 80 ribu. Sementara cabai hijau harganya saat ini 38 ribu, normalnya 28 ribu," katanya.

Meskipun demikian, cabai rawit sampai saat ini masih sangat diminati oleh para pembeli. Hanya saja jumlahnya yang dibeli sedikit dikurangi mengingat harganya saat ini masih terhitung mahal.

"Yang beli masih banyak, terutama dari ibu-ibu dan pedagang makanan. Tapi jumlahnya saja yang dikurangi. Kalau harga normal dulu, ibu-ibu biasanya beli 1 ons, sekarang paling belinya hanya setengah ons. Kalau pedagang makanan jumlah cabai rawitnya dikurangi, tapi ditambah cabai keriting," jelasnya.

Oleh karena itu, ia juga memang sengaja tidak ingin menyetok penjualan cabai rawit dengan jumlah yang banyak. Karena pembeli saat ini meskipun tetap ramai membeli, namun dengan jumlah yang sedikit.

"Saya juga tidak berani ambil banyak dari agen, saya ambil aja harganya 100 ribu jual 120 ribu. Takut kalau banyak ambil  tidak laku lalu busuk, untungnya juga tipis. Pembeli kan maunya cabai yang segar, kalau sudah agak busuk saja mereka tidak mau beli," ujarnya.

Untuk mengakali permintaan akan cabai rawit yang tinggi, ia juga mengaku pernah menjual cabai rawit yang didatangkan langsung dari Jawa. Namun para pembeli tidak cukup berminat untuk membeli, dan lebih memilih cabai rawit lokal.

"Kalau yang lokal kan lebih segar dan pedas. Beda dengan yang dari Jawa yang kurang pedas, ukurannya lebih gemuk tapi mudah busuk. Biasanya kalau 2 hari saja sudah mulai busuk," jelasnya.

Oleh karena itu, ia mengharapkan kepada pemerintah khusunya Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Landak dapat mengawasi harga cabai. Terutama dalam melihat ketersediaan cabai di pasar. Agar jangan sampai ada permainan dari agen yang sengaja menahan pendistribusian cabai.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved