Istana Kaca Sekadau Memprihatinkan
Masuk di ruang beranda Istana, terdapat dua tiang penyangga yang digunakan untuk menahan kayu yang patah pada bangunan itu agar tidak ambruk.
Penulis: Rivaldi Ade Musliadi | Editor: Jamadin
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SEKADAU – Sebuah bangunan terbuat dari kayu dengan model rumah panggung yang terletak di Jalan Merdeka Barat, kawasan pasar Sekadau tampak sangat memprihatinkan. Hampir di setiap bagian dalam bangunan tersebut tampak rapuh, bahkan beberapa dinding tampak sudah jebol.
Namun bangunan tersebut merupakan bangunan sejarah yang ada di Sekadau, bernama Istana Kaca yang saat ini masih berdiri, namun dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Masuk di ruang beranda Istana, terdapat dua tiang penyangga yang digunakan untuk menahan kayu yang patah pada bangunan itu agar tidak ambruk.
Istana Kaca itu memiliki delapan kamar yakni empat kamar dibangian kanan dan empat kamar pada bagian kiri. Kondisinya sangat memprihatinkan, penuh lubang dan mulai hancur dindingnya karena dimakan usia. Hanya saja, empat kamar pada sisi kanan Istana Kaca memang ditempati oleh warga.
Satu diantar warga Jhon, yang tinggal di satu diantara kamar yang tersedia di Istana Kaca langsung menanyakan kedatangan wartawan Tribun. “Dari mana,” tanya Jhon menghampiri.
Setelah berbincang-bicang ringan dengan Jhon, diketahui bahwa ia baru saja tingal di banguan tersebut selama beberapa bulan, bersama 3 Kepala keluarga lainnya yang telah terlebih dahulu tinggal disitu.
“Untuk sejarahnya sayang kurang tahu, yang saya tahu ini bekas bangunan istana, dan setelah itu sempat digunakan sebagai kantor camat. Tapi sudah lama ditinggalkan, dan kondisinya ya seperti inilah hingga saat ini,” cerita Jhon.
Jhon bersama istrinya menghuni kamar paling depan sisi bagian kanan Istana Kaca itu. Meski memiliki ketakutan karena kondisinya yang dikhawatirkan bisa ambruk, namun Jon tetap tinggal ditempat tersebut.
“Karena atapnya sudah banyak yang bocor saya buat sendiri dan pasang atap lagi. Nanti sewaktu-waktu saya pindah seng itu akan saya bawa lagi karena itu milik saya,” ujarnya sembari menunjukan kearah bilik bagian kamarnya.
Merasa masih kurang informasi, Tribun mencoba konfirmasi Raja Sekadau Pangeran Agung Gusti Muhammad Effendi mengenai bangunan bersejarah tersebut. Dari konfimasi sang raja, bangunan tersebut didirikan pada 1927 silam. “Istana Kaca itu didirikan pada tahun 1927. Kacanya itu didatangkan dari Belanda dan kayu dari Belitang,” ungkapnya.
Istana Kaca itu, lanjut raja, merupakan bagian dari sejarah Kerajaan Sekadau. Menurut sejarahnya, penandatangan fakta integritas yang menyatakan Kerajaan Sekadau masuk dalam NKRI dilakukan di Istana Kaca pada 1958 yang juga dihadiri oleh Menteri Dalam Negeri pada masa itu yakni, Mohammad Roem.
“Pendatangan itu pada masa kepemimpinan Pangeran Agung Gusti Adnan Sekadau,” ucapnya.
Bangunan Istana Kaca yang dulunya merupakan kantor kewidanaan itu strukturnya masih tetap atau sama dengan aslinya. Hanya saja, beberapa bagian bangunan tersebut sudah lapuk dimakan usia sehingga perlunya pemugaran sehingga nilai sejarah dari bangunan itu tidak hilang.
Besar harapan, para sesepuh dan kerabat Kerajaan Sekadau Istana Kaca bisa dilakukan pemugaran. Sehingga, bangunan yang juga bukti sejarah itu bisa tetap ada sehingga tidak hilang begitu saja.
“Istana Kaca merupakan cikal bakal terbentuknya Kabupaten Sekadau. Kami mengucapkan terimakasih kepada pemerintah yang telah memberikan bantuan dan dukungan terhadap pembangunan Keraton Kusuma Negara yang terletak di Desa Mungguk, mudah-mudahan Istana Kaca itu juga mendapatkan perhatian sehingga bisa dipugar,” pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/istana-kaca_20161208_182545.jpg)