Aplikasi Tenun Lunggi Pada Busana Muslim
Desainer busana muslim Kalbar Savitri, menuangkan kekayaan ini dalam berbagai variasi pakaian yang bercerita tentang kebudayaan Sambas.
Penulis: Ayu Nadila | Editor: Rizky Zulham
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Listya Sekar Siwi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kalimantan Barat memiliki berbagai keanekaragaman yang patut untuk dilestarikan termasuk dalam urusan kain.
Kain-kain ini merupakan kekayaan yang membuat daerah ini begitu kaya.
Desainer busana muslim Kalbar Savitri, menuangkan kekayaan ini dalam berbagai variasi pakaian yang bercerita tentang kebudayaan Sambas yang islami, pantai, tenun, dan gaya berbusana yang menarik.
Ia kemudian ikut berpartisipasi di acara Islamic Fashion Festival di Four Seasons Hotel Jakarta, (30/10) lalu.
"Thema Inspired by Sambas. Yang digunakan adalah kain tenun Sambas yaitu kain lunggi. Dipadu dengan beberapa jenis kain polos seperti linen, raw silk, sateen silk, sifon silk dan ada juga bahan keras," jelasnya.
Style design yang digunakan adalah muslim etnic dengan warna campuran warna-warna etnik. Ia sendiri memang ingin mengangkat kain Lunggi.
"Karena sekarang kain ini sudah di tenun dengan berbagai jenis benang seperti benang katun, sutra, rayon dan kombinasi polyster," ungkapnya.
Sambas diakuinya kaya dengan motif-motif setempat. Pewarnaan juga bervariasi ada yang kimia dan sekarang pewarna alami yang sedang di kembangkan.
"Pewarna alami yang digunakan yaitu menggunaka daun mangga, rambutan, temu lawak, biksa dan lain-lain. Beruntung Disperindag untuk show ini sangat aktif juga membantu saya dalam mengenalkan kain-kain yang ada di kabupaten tersebut sehingga saya sangat mudah untuk bertemu dengan pengrajin," tukasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/desainer-busana-muslim-kalbar-savitri_20161115_150139.jpg)