Mau Tepat Berinvestasi? Mulailah dengan Finansial Planning

Sebaliknya, perencanaan keuangan yang tepat, jadi awal penting yang harus dipastikan sebelum seseorang memutuskan untuk berinvestasi.

Penulis: Ishak | Editor: Mirna Tribun
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / ISHAK
Praktisi dan Pemerhati Pasar Modal, Ryan Filbert (tengah), saat memberikan paparan dalam agenda Media Gathering OJK Kalbar, di Mercure Hotel Pontianak, Senin (31/10/2016). 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ishak

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Salah kaprah! Memilih instrumen investasi yang akan dijajal, bukan menjadi hal pertama yang harus dilakukan dalam berinvestasi.

Baca: Dunia Berubah, Ryan Filbert: Investasi Kini Lebih Perlu dan Mudah

Sebaliknya, perencanaan keuangan (Financial Planning) yang tepat, jadi awal penting yang harus dipastikan sebelum seseorang memutuskan untuk berinvestasi.

Baca: Transaksi Investor di Kalbar Capai Rp 5,3 Triliun

"(Saat memulai berinvestasi) Yang paling pertama kali sebenarnya bukan bicara mengenai apa yang akan diinvestasikan. Tapi bagaimana mengelola uang," ujar pakar investasi dan pemerhati pasar modal, Ryan Filbert, saat ditemui usai agenda Media Gathering Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Perwakilan Kalbar, di Mercure Hotel Pontianak, Senin (31/10/2016).

Baca: Terkait Raibnya Simpanan Nasabah, OJK Kalbar Sebut Belum Dapat Laporan Resmi

Menurutnya, Financial Planning itu bentuk sederhananya yakni seseorang mengetahui pasti berapa jumlah uang yang dibutuhkan, dihasilkan, dan digunakan.

"Jadi, harus tau berapa uang yang dihabiskan (untuk kebutuhan sehari-hari), dan berapa uang yang harus disisihkan untuk tanggungjawab masa depan kita," jelasnya.

Jika sudah didapat bentuk Financial Planning-nya, maka seseorang bisa lebih mudah dalam merencanakan investasi yang dibuat. Sehingga bisa menjamin kemakmuran seseorang di masa depan.

"Investasi itu tujuannya apa? Untuk masa depan. Jadi  kalau sudah tau dengan masa depan, kita harus punya pertanggungjawaban," bebernya.

Setiap orang, menurutnya, punya tanggungjawab terhadap masa depan. Namun, tidak banyak orang yang benar-benar bijak merencanakan masa depan.

Kondisi ini sejalan dengan sikap sebagian besar orang.

Menginginkan masa depan yang sejahtera dan makmur, namun tidak memiliki rencana dan aksi nyata yang kayak guna mewujudkannya.

Banyak yang beranggapan menabung perlu untuk masa depan yang baik.

Hanya saja, menabung untuk masa depan umumnya baru dilakukan jika melebihi kelebihan uang, atau dalam bahasa yang lebih sarkas, uang sisa.

Pola pikir seperti ini menurutnya jelas salah.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved