Liputan Khusus
Bocah Ngelem Meresahkan Warga
Sehingga banyak program untuk para generasi muda belum bisa digelar karena tak ada anggaranya
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Fenomena anak-anak menghirup uap lem masih saja berlangsung. Harga yang murah serta gampangnya mendapatkan lem perekat serbaguna di toko bangunan atau di toko-toko alat tulis kantor membuat penggunaan lem marak. Keberadaan bocah- bocah 'ngelem' ini mulai meresahkan warga. Pantauan Tribun, dalam sepekan terakhir, ulah remaja tanggung ketagihan lem itu ditemukan di Kota Pontianak, Mempawah dan Sambas.
Bahkan jajaran Polresta Pontianak terpaksa mengamankan lima orang anak dibawah umur yang kedapatan sedang ngelem. Kelima anak yang diamankan terdiri dua perempuan dan tiga laki-laki. Untuk yang wanita kedua masih kelas satu SMP dan yang laki-laki dua orang kelas tiga SMP dan satunya tidak bersekolah lagi.
Waka Polres, AKBP Veris Septiansyah, kepada Tribun Pontianak, Kamis (29/9/2016) menuturkan pihaknya mendapatkan laporan adanya anak-anak yang ngelem dari orangtua anak yang juga kedapatan sedang ngelem.
Untuk tindakan yang dilakukan terhadap para anak yang ngelem tersebut, Veris menuturkan akan memanggil orangtuanya. "Kita akan panggil orangtuanya, biar para orangtua tersebut bisa mengetahui perilaku anaknya di luar," ungkapnya.
Anak-anak tersebut kini diamankan di Jalan Suwignyo, Gang Panti Jaya. Satu diantara anak yang ngelem, sebut saja namanya Manja (12) yang tinggal di Jalan Karet, mengaku telah ngelem dua kali bersama teman-temannya.
Awalnya, sebelum ngelem ia izin dari rumah ke sekolah ada kegiatan latihan ekskul sore. Tapi karena terlambat ia langsung pergi ke rumah temannya dan diajak ngelem. "Baru dua kali bang kamek ngelem, awalnye lihat kawan lalu kamek pengen (ju)ga," ungkapnya.
Siswa kelas satu SMP di Kota Pontianak tersebut menuturkan masih banyak temannya yang lain melakulan hal serupa. Menurutnya, lem yang digunakan dibeli di toko bangunan seharga Rp 10 ribu, uangnya dikumpulkan bersama teman temannya.
Sebagian warga Tebas, Kabupaten Sambas juga mulai resah dengan keberadaan anak-anak yang ngelem di wilayahnya. Kapolsek Tebas AKP Supriyadi yang ditemui Tribun mengatakan pihaknya beberapa waktu lalu menggerebek salah satu tempat yang biasa dipakai anak ngelem.
"Tak jauh dari Puskesmas Tebas. Kami menemukan bekas kaleng-kaleng lem yang diduga sisa digunakan anak-anak ngelem," ujarnya, Rabu (29/9/2016).
Ia memaparkan pihaknya telah memetakan lokasi mana saja di Kecamatan Tebas yang biasa digunakan untuk ngelem. Lokasi tersebut di antaranya adalah Jembatan Sungai Kelambu, Bekut Dalam, dan sekitar Puskesmas Tebas.
"Beberapa anak yang diamankan masih berada di Sekolah Dasar dan beranjak SMP. Ada juga yang kita ciduk anak-anak dibawah umur yang putus sekolah," ujarnya.
Hingga saat ini, Supriyadi mengakui kesulitan untuk memberikan penanganan hukumnya. Karena belum ada UU yang mengatur mengenai sanksi terhadap pecandu lem.
"Kebanyakan anak-anak yang kita ciduk hanya didata. Setelah itu diserahkan kepada orangtua yang bersangkutan untuk dilakukan pembinaan," ujarnya
Meski demikian, Polsek Tebas meminta masyarakat juga aktif memberikan laporan jika melihat ataupun mencurigai adanya aktivitas ngelem.
Camat Tebas Sugiarto mengatakan untuk meminimalisir aktivitas anak ngelem, masyarakat bersama kepolisian melakukan patroli di lokasi yang kerap digunakan untuk ngelem. "Lokasi yang kerap digunakan untuk ngelem harus sering-sering diawasi dan dirazia," ujarnya.
Ia mengatakan pihaknya juga meminta kepada desa menganggarkan melalui ADD program pengembangan dan penguatan generasi muda. Sehingga setiap desa memiliki program dan aktivitas yang kontinyu yang secara spesifik menyentuh pengembangan generasi muda.
"Selama ini belum pernah teranggarkan didesa. Sehingga banyak program untuk para generasi muda belum bisa digelar karena tak ada anggaranya," ujarnya.
Ikuti berita selengkapnya di Tribun Pontianak cetak edisi, Minggu (2/10/2016)