Karena Kejanggalan Ini, Kasus Pengasuh Cekik Bocah Singkawang Terungkap

Sekitar pukul18.30 WIB, tersangka Yul membuka celana dan baju anak asuhnya tersebut karena akan buang air

Penulis: Novi Saputra | Editor: Jamadin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/HUMAS POLDA KALBAR
Yul (Kiri), pengasuh yang tega mencekik Nando hingga tewas. Ia kini telah diamankan di Mapolres Singkawang. (Kanan) Jasad Nando, bocah empat tahun yang tewas dicekik pengasuh. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Novi Saputra

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINGKAWANG - Kapolsek Singkawang Barat, Kompol Sunarno menuturkan terbongkarnya kasus pembunuhan yang dilakukan oleh seorang pengasuh terhadap bocah yang di asuhnya di Jl Pulau Belitung berawal dari LP penemuan mayat pada 11 September kemarin, lantaran pelapor, Yul membuat laporan dinilai janggal.

"Sekitar pukul18.30 WIB, tersangka  Yul membuka celana dan baju anak asuhnya tersebut karena akan buang air.
Ia kemudian mengambil nasi untuk abang korban dan mengambil cucian. Kemudian saat kembali ia telah melihat Nando telah terlentang. Begitu laporan awalnya." Kata Narno yang saat itu memimpin langsung jalannya penyelidikan.

Kata Narno di TKP pihaknya kemudian melakukan penyelidikan sesuai keterangan pelapor. "Setelah kita olah TKP ternyata ada kejanggalan-kejanggalan. Kita kemudian mengumpulkan keterangan. Kejanggalan itu, lanjut dia, karena tinggi air hanya 60 sentimeter ketinggian anak ini 96 sentimeter. Bagaimana bisa tenggelam," kata Narno

Narno menceritakan saat ia bersama Kanit Reskrim Ipda Walidu dan anggotanya datang ke rumah tersebut, korban sudah dibawa ke rumah sakit.

"Setelah kita cek di tubuh korban ternyata kejanggalan semakin jelas, seperti bekas merah dan bekas sulutan rokok serta ada bekas luka dan koreng dan dibagian leher membiru. Kemudian kita minta visum kepada pihak RS, kemudian semakin kuat kecurigaan. Kemudian kita melakukan gelar kecil-kecilan dengan kecurigaan tidak tenggelam kemudian kita minta dilakukan otopsi," kata Narno

Namun di sini pihaknya kesulitan untuk melakukan autopsi yang lebih cepat, sebab orangtua korban berada di Malaysia.

"Langsung saya telepon orang tuanya, tapi orangtuanya bilang Kamis baru bisa pulang, loh gimana mau cepat autopsi," katanya

Kata dia baru kemudian pada 18 September dilakukan otopsi di RS Abdul Aziz. "Adanya autopsi, apa yang menjadi kecurigaan kami memang secara forensik belum keluar, namun disini jelas ada kesesuaian," tambah dia.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved