Kamsen: Setelah Eksekusi Semoga Situasi Kondusif

Jadi pada eksekusi itu ada yang dibongkar seperti bangunan pos jaga PT ABP

Kamsen: Setelah Eksekusi Semoga Situasi Kondusif
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/SUBANDI
Direktur PT ISL, Kamsen Saragih sedang jumpa pres sama awak media di kantornya, Jumat (16/9/2016). Kamsen menjelaskan tentang eksekusi pengosongan aset PT ABP oleh PN Ketapang di Desa Siantau Kecamatan Nanga Tayap, Kamis (15/9/2016). 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Terkait sengketa lahan PT Inti Sawit Lestari (ISL) dan PT Arrtu Borneo Platation (ABP) di Desa Siantau Raya, Kecamatan Nanga Tayap, Pengadilan Negeri (PN) Ketapang melakukan eksekusi pengosongan terhadap aset PT ABP di lapangan.

"Eksekusi dilakukan oleh PN Ketapang kemarin (Kamis, 15/9-red). Kita hanya ikut dan mantau kondisi di lapangan saja," kata Direktur PT ISL, Kamsen Saragih saat jumpa pres sama awak media di ruang kerjanya, Jumat (16/9/2016).

Ia menjelaskan PN Ketapang mengeluarkan surat eksekusi itu pada Selasa (30/8). Eksekusi atas permintaan bantuan dari Ketua PN Jakarta Selatan. Khususnya Panitera PN Jakarta Selatan dengan surat nomor W10.U3/7056/HK.02.04/VIII/2016 pada Senin (8/8).

Isinya prihal mohon Bantuan Eksekusi Pengosongan dalam perkara nomor 20/Eks.Rl/2016/PN Jkt. Sel tanggal 24 April 2016. Kemudian Junto Penetapan Ketua PN Jakarta Selatan nomor 20/Eks. RL/2016 PN Jkt. Sel tanggal 24 April 2016.

"Dalam surat itu eksekusi pengosongan tersebut dalam rangka pelaksanaan Risalah Lelang Nomor 134/2015 tanggal 8 April 2015. Panitra PN Ketapang yang menandatangi surat eksekusi itu adalah Ferry Perdinan," ungkapnya.

Kamsen menambahkan meski dalam eksekusi harusnya aset PT ABP dikosongkan semua. Tapi karena permintaan pihak lain dan atas pertimbangan tertentu. Maka menyetujui agar PN Ketapang tidak mengosongkan semuanya aset PT ABP.

"Jadi pada eksekusi itu ada yang dibongkar seperti bangunan pos jaga PT ABP. Kemudian ada juga bangunan yang tidak dibongkar seperti kantornya, kondisinya seperti semula," ucapnya.

Ia mengungkapkan sebenarnya ia tak ingin terjadi eksekusi tersebut. Tapi terpaksa dilaksanakan pihak pengadilan karena mediasi pihaknya sama PT ABP tak ada penyelesaian. Padahal sebelumnya PT ISL dan PT ABG pernah sepakat menyelesaikan secara kekeluargaan.

"Setahun lebih kita menunggu dan sudah beberapa kali melakukan pertemuan. Bahkan ada dua kali sepakat persoalan diselesaikan secara kekeluargaan, bisnis to bisnis. Misalnya sawit yang sudah ditanam PT ABP biayanya kita ganti," ungkapnya.

Ia berharap setelah eksekusi oleh PN Ketapang ini persoalan berakhir. Sehingga masyarakat yang ingin bekerja di perusahaan bisa lebih tenang. "Semoga setelah eksekusi ini situasi dan kondisi menjadi lebih kondusif, aman dan nyaman," harapnya.

Penulis: Subandi
Editor: Arief
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved