Panin Securitas Nilai NPL Capai Titik Puncak

Analis Makro Panin Sekuritas, Wildan Noor R menilai Rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) berada di kisaran 3,1 persen (gross)...

Penulis: Tri Pandito Wibowo | Editor: Mirna Tribun
TRIBUNFILE/IST

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Maskartini 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Analis Makro Panin Sekuritas, Wildan Noor R menilai Rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) berada di kisaran 3,1 persen (gross) atau 1,5 persen (net).

Pertumbuhan kredit tercatat sebesar 8,9 persen secara yoy, meningkat dari pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 8,7 persen (yoy).

"Menurut kami, NPL yang berada di kisaran 3,1 persen di akhir triwulan II 2016 sudah mencapai titik puncaknya. Kami lihat pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial yang dilakukan serta implementasi UU Pengampunan Pajak dapat meningkatkan pertumbuhan kredit di semester II 2016,"ujarnya Selasa, (13/9/2016).

Oleh karena itu, view NPL kata Wildan ke depannya akan flat atau sedikit menurun seiring dengan adanya pertumbuhan kredit tersebut. Panin Securitas merincikan Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi kuartal II 2016 sebesar 5,18 persen year on year (YoY).

Faktor domestik yang mempengaruhi yaitu harga komoditas nonmigas di pasar internasional yang mengalami peningkatan. Selain itu, harga rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) naik dari 30,20 dollar AS per barel pada kuartal I 2016 menjadi 42,13 dollar AS pada kuartal II 2016.

Faktor domestik lainnya yakni realisasi belanja pemerintah (APBN) pada kuartal-II 2016 yang mencapai Rp 474,28 triliun. Angka ini naik dari realisasi belanja pemerintah pada kuartal-II 2015 yang hanya Rp 384,74 triliun.

Dari sisi investasi, realisasi penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) kuartal II 2016 sebesar Rp 151,6 triliun, atau naik sebesar 3,5 persen (Q-to-Q), dan naik 12,3 persen (YoY).

Pada kuartal II 2016 juga terjadi pergeseran panen raya tanaman pangan yang berpengaruh terjadap pertumbuhan ekonomi.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan pemangkasan belanja negara sebesar Rp 137,6 triliun berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi tahun ini.

Pemerintah menurutnya harus rela target pertumbuhan ekonomi tahun ini sebesar 5,2 persen diperkirakan meleset 0,1 persen.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved