Kas Keliling BI Sambangi Desa Tamajuk

Selain dilakukan di luar kota menyasar beberapa pasar, KPw BI Provinsi Kalbar memang rutin melakukan kegiatan kas keliling diluar Kota Pontianak

Penulis: Tri Pandito Wibowo | Editor: Jamadin
maskartini
Bawa Uang - Petugas kas keliling BI dengan tumpukan uang kertas saat melakukan kegiatan di Temajuk belum lama ini. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Memenuhi kebutuhan uang kartal dan juga uang pecahan kecil di perbatasan, Kantor Perwakilan Wilayah (KPw) Provinsi Kalimantan Barat kembali menggelar mobil kas keliling. Kali ini, kegiatan kas keliling digelar bersamaan dengan Program Sosial Bank Indonesia yang bertema “Peduli Tepian Negeri”.

Masih dalam suasana dirgahayu kemerdekaan RI ke-71 dan HUT BI ke-63 ini mobil kas keliling menyambangi Desa Temajuk, Desa Sekura dan juga Kota Sambas. Upaya tersebut kata Kepala KPw BI Provinsi Kalbar, Dwi Suslamanto merupakan kegiatan rutin kas keliling yang bekerjasama dengan perbankan.

Dari Kota Pontianak, rombongan mobil kas keliling harus menempuh perjalanan sekitar 4 jam 58 menit untuk menuju Kabupaten Sambas dalam rangka pemenuhan uang tunai UPK. Selain dilakukan diluar kota menyasar beberapa pasar, KPw BI Provinsi Kalbar memang rutin melakukan kegiatan kas keliling diluar Kota Pontianak.

Spotnya pun berbeda, jika beberapa waktu lalu mobil kas keliling menyapa masyarakat di sejumlah desa di Paloh seperti Desa Liku. Hingga Kamis, (01/9/2016), rombongan KPw BI Provinsi Kalbar menyasar beberapa desa hingga Desa Temajuk. Jika di beberapa desa yang tidak mempunyai bank, masyarakat menukarkan sendiri berbeda dengan Kota Sambas. KPw BI Provinsi Kalbar bekerjasama dengan perbankan setempat.

"Ini rutin kita lakukan. Beberapa waktu lalu juga kami sudah kesini, selang sebulan. Per kemarin kas keliling luar kota dilakukan 11 kali. Untuk dalam kota sudah dilakukan 25 kali. Kedepan mobil kas keliling juga akan menyambangi Ketapang, Entikong, dan mungkin juga akan ke Badau,"ujarnya kepada tribun pada Minggu, (4/9/2016).

Selain di luar Kota Pontianak, ia mengatakan kegiatan kas keliling juga dilakukan di dalam kota seperti pasar tradidional, perkantoran, minimarket. Dengan adanya kegiatan kas keliling maka kata Dwi rupiah di perbatasan menjadi terpenuhi. "Total sudah 36 kali kegiatan. Banyak hubungannya jika dihubungkan pemenuhan pecahan uang kecil harus terpenuhi sebab jika tidak transaksi akan terkendala. Sehingga ujung-ujungnya terjadi inflasi, yang berdampak pada nilai tukar rupiah,"ujarnya.

Untuk menjangkau Desa Temajuk, dari Kota Sambas, rombongan harus menempuh perjalanan hingga 3 jam melewati Jalan Kartiasa. Jauhnya perjalanan dikarenakan kondisi Jalan Kartiasa yang rusak dan berdebu karena masih dalam perbaikan. Seharusnya jarak bis ditempuh dengan waktu sekitar 1 jam 58 menit, lalu pengendara bisa mengakses fery penyeberangan dari Terminal Sakura.

Di Desa Temajuk, masyarakat yang hendak menukarkan UPK begitu antusias. Pada pagi hari Selasa, untuk hari pertama kegiatan dimulai masyarakat sudah mempersiapkan diri. Maklum saja, di Desa Temajuk masyarakat tidak mempunyai bank yang selayaknya ada. Sehingga untuk kebutuhan uang kecil dan uang layak edar, masyarakat harus menunggu mobil kas keliling BI.

Di Desa Temajuk, BI mempunyai modal Rp106 juta, terbagi dalam pecahan 20 ribu Rp 20 juta, pecahan 10.000 total Rp 30 juta, pecahan 5000 total Rp 30 juta, pecahan 2000 total Rp 16 juta, dan pecahan 1000 total Rp 10 juta. Adapun total penukaran mencapai 60 juta di Desa Temajuk, dengan persentase 50 persen merupakan uang tidak layak edar.

Beranjak dari Desa Temajuk, rombongan kas keliling melakukan kegiatan kas keliling di BPD Paloh. "Total modal ada Rp 1 miliar. Selain di Temajuk dan Paloh, Rp 500 juta disiapkan di Sekura, sisanya di Sambas. Jika di desa benar-benar melayani masyarakat, sedikit berbeda di Desa Sambas yang penukaran UPK melayani perbankan.

Dalam kesempatan yang sama Dwi juga melakukan penyerahan bantuan di beberapa desa. Ia juga memaparkan adanya beasiswa bagi anak bangsa yang ingin meneruskan ke perguruan tinggi. "Selain pemenuhan rupiah, melalui CSR, kita juga peduli bagaimana bisa meningkatkan SDM agar bisa memperkuat benteng. Untuk menjaga stabilitas tetap kuat, kami juga diberikan otoritas menarik uang lusuh di perbatasan. Ini kali kedua dalam bulan ini, semoga barokah,"ujarnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved