Dua Dampak Kredit Motor dengan Uang Muka Nol Persen

Kebijakan pelonggaran uang muka ini, jika berjalan baik, diperkirakanya akan memacu pertumbuhan ekonomi nasional.

Penulis: Ishak | Editor: Steven Greatness
TRIBUN PONTIANAK/ISHAK
Pengamat Ekonomi Kalbar, Ali Nasrun. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pengamat ekonomi Untan, Ali Nasrun mengatakan rencana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan kebijakan uang muka nol persen bagi kredit kendaraan bermotor memiliki dua sisi dampak tergantung sudut pandangnya.

“Saya kira tergantung dilihat dari sudut pandang mana. Tentu ini bisa berdampak positif, tapi pada situasi tertentu juga bisa berdampak negatif,” ujar Ali Nasrun, Kamis (28/07/2016) siang.

Ia menilai, dilihat dari sisi konsumen kebijakan itu sangat bagus. Sebab, konsumen bisa mengakses kepemilikan kendaraan bermotor, dengan biaya yang lebih ringan. Konsumen tak lagi dibebankan harus menyediakan uang dalam.jumlah besar sebagai uang muka.

Sedangkan dilihat dari sisi pengusaha, terutama pengusaha dealer, regulasi ini diperkirakan akan memacu peningkatan angka penjualan unit. Penjualan akan terdorong oleh kemudahan yang didapatkan oleh konsumen.

Adapun dari sisi pemerintah, yang diwakili oleh OJK, ia berkeyakinan kebijakan ini didasari atas niatan yang sangat baik. Terutama, terkait upaya mendorong belanja domestik.

“Apalagi di Indonesia ini, pertumbuhan ekonominya didominasi oleh konsumsi domestik,” paparnya.

Kebijakan pelonggaran uang muka ini, jika berjalan baik, diperkirakanya akan memacu pertumbuhan ekonomi nasional.

“Ada kecenderungan berimbas positif pada pertumbuhan ekonomi secara makro,” prediksinya.

Hanya saja, kebijakan ini bukan berarti tanpa resiko sama sekali. Bahkan, ia punya kekhwatiran tersendiri, jika di masa-masa mendatang, kondisi perekonomian nasional terus mengalami penurunan dan pelambatan.

“Kalau ekonomi lesu, orang kan bisa saja pendapatannya berkurang. Padahal, saat bersamaan, kewajibannya melunasi hutang kredit tidak berkurang sama sekali,” nilainya.

Kondisi tersebut, berdampak pada adanya potensi gagal bayar konsumen atas hutang kredit mereka.

“Jika konsumen terlalu terdorong, melebihi daya dukung dari kemampuan finasialnya, dia akan terjerat hutang. Kecuali bagi konsumen yang benar-benar bisa membuat perhitungan yang baik,” katanya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved