Mengintip Bisnis Jamur Tiram

Ia juga membeli buku tentang jamur dan budidaya jamur tiram putih di toko buku Gramedia. Tak hanya membeli buku, Lilis menghubungi kenalannya petani..

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/RIDHOINO KRISTO SM
Elisabeth Lilis Suryani di kebun jamur tiram putih miliknya. Lulusan Ekonomi ini meraup omzet Rp 20 juta perbulan. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Berawal dari keinginannya untuk berhenti bekerja dan mempunyai usaha. Elisabeth Lilis Suryani lantas mencoba mengembangkan usaha jamur tiram miliknya.

Lilis, sapaan akrabnya yang selama 10 tahun berkecimpung di Non Government Organization (NGO) kemudian berselancar di internet untuk mencari ide pada usahanya. Ia juga membeli jamur di supermarket yang setelah dicobanya ternyata enak. Merasa apa yang dicobanya menarik, ia lalu mencari tahu mengenai jamur tiram di internet.

Ia juga membeli buku tentang jamur dan budidaya jamur tiram putih di toko buku Gramedia. Tak hanya membeli buku, Lilis menghubungi kenalannya petani jamur di Jawa.

Namun setelah mendapat informasi dari kenalannya, cukup membuat dia kesulitan lantaran backgroundnya yang lulusan Ekonomi dan bukan pertanian.

“Setelah telepon, eh ternyata bikin jamur susah karena background aku ekonomi bukan pertanian. Soalnya harus buat baglog (media tanam). Kalau baglog dari jawa kirim ke Kalbar rusak,” ucapnya Lilis kepada Tribun, Rabu (20/7/2016).

Lilis lalu mencari petani lokal yang membuat baglog untuk mulai melakukan eksperimennya. Setelah berhasil menemukan, Lilis kemudian membeli 10 baglog dan sebulan menanam jamur mulai tumbuh dan bisa di panen.

Hasil panen yang diperoleh dibagi-bagikannya kepada kerabat dan saudaranya. Respon positif dari mereka lantaran rasa jamur yang enak memacu dirinya untuk mengembangkan jamurnya untuk skala bisnis.

Lilis lalu membuat pondok kecil untuk memulai usahanya pada September 2013. Tahap awal untuk mengetes pasar ia membeli 500 baglog. Panen bulan November Lilis lantas memulai promosinya melalui FB dan mendapat respon yang baik dari teman-temannya.

Akhirnya Januari 2014 mengontrak ruko di tepi jalan Parit Meliau menuju arah Sungai Ambawang dan membuat jamur di belakang dan samping ruko. Pada saat itu Ia mampu memproduksi rata-rata 6 kg perhari sepanjang 2014.

Namun lantaran tanah di belakang ruko yang disewa tak bisa di kontrak akhirnya ia pindah ke rumahnya membangun kebun jamur berkapasitas 5000 baglog dengan produksi rata-rata 10 kg perhari.

“Aku kemudian ikut pelatihan-pelatihan di Disperindag, seminar-seminar kompas, diskop dispertanian. Aku bangun relasi sepanjang 2015. Dan akhirnya 2016 akhir dapat pinjaman bank. Sekarang produksi bisa mencapai 15 ribu perhari,” papar Lilis yang hobi berjualan sejak dulu.

Diceritakan Lilis, pengolahan dilakukan di kebun miliknya dengan menyusun rapi baglog yang dibeli. Panen dapat dilakukan sebulan setelah proses tanam. Massa produktif baglog sendiri dapat tumbuh hingga 4 bulan.

Setiap dua jam sekali dalam satu hari, baglog tersebut mesti disiram dibantu dengan mesin pengaputan alias mesin pendingin. Untuk satu baglog bisa tumbuh kira-kira 4 hingga 5 ons dalam masa empat bulan.

Dari baglog yang disimpan di kebun, kurang lebih 40 hari jamur akan tumbuh. “Tumbuhnya juga bergiliran, jadi kita bisa panen tiap hari,” jelas Lilis.

Hasil olahan jamurnya pun beragam. Ada, produk kripik dan juga nugget lumpia jamur. Dibantu dua orang karyawannya, RimaAih_jamuR yang menjadi usahanya di jual ke café-café hotel, perkantoran, dan juga pasar tradisional.

Dengan dua kebun jamur tiram putih yang dimiliki terletak di Jl Yam Sabran dan Jl Ampera, Lilis kini memiliki omzet Rp 20 juta per bulan dan berhasil mewujudkan keinginannya untuk berhenti bekerja dan memiliki usaha sendiri.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved