Titik Api di Sosok Tak Terpantau Satelit

Kita sudah memiliki organisasi, memiliki masyarakat peduli api. Kita sudah memiliki semua, tapi belum efektif bekerja.

Penulis: Hendri Chornelius | Editor: Arief
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/HENDRI CHORNELIUS
Bupati Sanggau, Paolus Hadi saat menyerahkan surat kesepakatan bersama kepada perwakilan perusahaan pada saat rapat evaluasi penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Kabupaten Sanggau, di aula Kantor Bupati Sanggau, Rabu (13/7/2016). 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SANGGAU - ‪Komandan Kodim (Dandim) 1204/Sanggau Letkol Arm I Gusti Agung Putu Sujarnawa menyampaikan, Berdasarkan pantauan satelit sekitar 16 titik api yang terdeteksi sepanjang tahun 2016 hingga sekarang.

Hal itu disampaikan pada saat rapat evaluasi penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Kabupaten Sanggau, di aula Kantor Bupati Sanggau, Rabu (13/7/2016).

“Untuk Kecamatan Kapuas empat kali, yaitu di keluarahan Ilir Kota terjadi dua kali. Tapi kemungkinan karena seng yang ketika itu suasana sangat panas. Sementara di Desa Semerangkai di Kecamatan Kapuas itu berada di lahan PT Rimba Belian. Namun saat itu rupanya pembakaran limbah pabrik,” katanya.

Selanjutnya, di Kecamatan Tayan Hilir, tepatnya di Desa Sosok, Di Kecamatan Noyan ada dua, di Desa Sungai Dangin dan Desa Idas. Dua kali hotspot di Kecamatan Bonti. Keduanya di Desa Majel.

Dua hotspot juga terdeteksi di Kecamatan Tayan Hilir. Keduanya di Desa Subah. Kecamatan Meliau ada satu kali, di Desa Sungai Kembayu. Satu kali di Kecamatan Bantag Tarang, di Desa Semoncol. Sementara di Kecamatan Tayan Hulu ada tiga yaitu di Desa Mandong, Pandan Sembuat dan Sanjan.

“Sebenarnya ada lagi yang tidak terbaca oleh satelit. Contohnya yang terjadi di Sosok, dua hari yang lalu, tapi sudah padam. Penyebab kebakaran disebabkan oleh kesengajaan masyarakat untuk membuka ladang,” jelasnya.

Dandim juga mengungkapkan beberapa hal dalam penanganan Karhutla, antara lain, organisasi, anggaran serta sarana dan prasarana. Meski telah memiliki semua itu, di lapangan masih terjadi kendala.

“Kita sudah memiliki organisasi, memiliki masyarakat peduli api. Kita sudah memiliki semua, tapi belum efektif bekerja. Kita juga butuh anggaran. Anggaran saat ini, sudah ada tapi belum terintegrasi. Kita juga membutuhkan sarana dan prasarana,” katanya.

Sementara itu, Bupati Sanggau, Poulus Hadi mengakui belum memiliki kemampuan maksimal untuk menyetop orang berladang dengan cara membakar. Namun ia yakin, masyarkat Sanggau semakin berkurang dalam berladang.

“Karena kebun sawit sudah penuh. Sawah sudah mulai dicetak. Terakhir, karena hutan juga sudah habis, sehingga menurun,” ungkapnya.

Namun bukti nyata jumlah hotspot di Kabupaten Sanggau pada 2015 sebanyak 188 titik. “Saya juga heran. Padahal dulu orang Sanggau ini banyak yang berladang. Setahu saya jumlahnya lebih dari 188,” katanya.

Wakil Ketua DPC PDIP Sanggau itu meningatkan komiten perusahaan untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.

“Atau membuat strategi baru, kasih lahan ke petani, nanti perusahan yang menanam. Mudah-mudahan Sanggau tidak begitu,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, hadir pula Kapolres Sanggau, Kajari Sanggau serta perwakilan perusahaan, SKPD Sanggau. 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved