Piala Eropa 2016

EURO 2016: Nasib Portugal di Tangan Sang Insinyur

Jika EURO masih diikuti 16 tim, tentu penampilan defensif Portugal takkan membawa mereka lebih jauh dari fase grup.

EURO 2016: Nasib Portugal di Tangan Sang Insinyur
ARIS MESSINIS / AFP
Fernando Santos, saat masih melatih tim nasional Yunani. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Jika Portugal memenangi final dan menjuarai EURO 2016, rasanya seperti melihat hidangan Lebaran yang sudah disiapkan semalam suntuk dilahap oleh tamu yang masuk lewat pintu belakang.

Fernando Santos menjadi pria yang paling bertanggung jawab atas penampilan nyaris tanpa inspirasi Portugal sepanjang turnamen ini.

Sejak awal kedatangannya di timnas Portugal, September 2014 silam, Santos tak ubahnya seperti petualang tua yang tak diperhitungkan.

BACA: EURO 2016: Bursa, Head to Head, Prediksi Skor Portugal vs Prancis

Padahal, pelatih 61 tahun itu mengantungi resume sebagai satu di antara sangat sedikit pelatih yang pernah menangani tiga besar Portugal, FC Porto, Benfica, dan Sporting Lisbon.

Pada musim debutnya di Porto, Santos memberikan gelar juara liga musim 1998/99 sekaligus melengkapi lima titel beruntun yang diraih dua pelatih sebelumnya, Bobby Robson dan Antonio Oliveira.

Di luar Portugal, Santos populer di kalangan publik sepakbola Yunani. Pengalaman panjang selama dasawarsa 2000-an melatih AEK Athena, Panathinaikos, dan PAOK Thessaloniki mengantarkannya pada tugas melatih timnas Yunani usai Piala Dunia 2010.

Santos menggantikan Otto Rehhagel, yang pernah memberikan gelar juara EURO 2004 untuk Hellas.

BACA: EURO 2016: Wasit Kontroversial Pimpin Final Portugal vs Prancis

Halaman
1234
Editor: Marlen Sitinjak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved