Guru Kalbar Turun ke Jalan

Tunjangan Sertifikasi Guru Bakal Dipinjam untuk Bayar Tenaga Honorer

Satu di antara tuntutan oleh para guru dan anggota pengurus PGRI adalah mendesak agar Gubernur Kalbar segera mencairkan dana BOS.

Penulis: Syahroni | Editor: Arief
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/SYAHRONI
Guru SD 06 Nanga Pinoh, Syafarudin Spd (kiri) dan Kepala SD 06 Emang Bemban, Pinoh Selatan, Mulyadi MPd. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Seluruh pengurus dan anggota Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dari 14 kabupaten/kota serta pengurus PGRI Kalbar, mengirim utusan dalam aksi damai yang dilakukannya pada Senin (27/6/2016).

Dalam aksi damai tersebut, para guru berorasi pada empat titik yaitu, Kejati Kalbar, Polda Kalbar, DPRD Kalbar dan titik utama dalam orasi adalah Kantor Gubernur Kalbar.

Satu di antara tuntutan oleh para guru dan anggota pengurus PGRI adalah mendesak agar Gubernur Kalbar segera mencairkan dana BOS.

Bendahara Sekolah Dasar Negeri (SDN) 06 Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi, Syafarudin SPd menuturkan dengan tidak dicairkannya dana bos pada triwulan kedua tahun 2016 ini membuat operasional sekolah terganggu.

Selain itu para guru juga mengorbankan dana sertifikasinya untuk membayar gaji para guru honorer yang ada disekolah SDN 06 Nanga Pinoh tersebut.

"Kalau kita tidak mengambil kebijakan seperti itu, nanti para guru honorer kita mau makan apa. Sedangkan sekolah tidak diperbolehkan sama sekali dalam menarik iuran dari anak didiknya," tambahnya.

Syafarudin sudah berencana, jika pada awal Juli ini dana BOS tidak kunjung cair, mau tidak mau yang digunakan adalah dana sertifikasi guru sebagai pinjaman untuk membayar gaji tenaga honorer.

"Dana yang dari Januari hingga Maret itu sudah habis, digunakan untuk, ulangan umum, OOSN, dan untuk pelaksanaan ujian nasional," ungkapnya.

Penderitaan sekolah juga tidak hanya sampai disitu, bahkan bendahara tersebut menuturkan jika saat ini utang-utang sekolah sudah menumpuk.

Kepala SDN 06 Desa Emang Bemban, Pinoh Selatan, Kabupaten Melawi, Mulyadi MPd, juga menuturkan, keadaan di sekolahnya juga tidak jauh berbeda dengan sekolah di Nanga Pinoh tersebut.

Dalam memenuhi gaji tenaga honorer tersebut, pihak sekolah melakukan peminjaman agar bisa membayar gaji tenaga honorer.

Serta dirinya selaku kepala sekolah, juga membuat sebuah kebijakan dengan meminjam dan menggunakan uang pribadinya agar operasional sekolah tetap berjalan.

"Selama tiga bulan ini, saya lah yang menanggung benerapa biaya operasional sekolah, menunggu dana BOS cair. Namun jika bulan juli masih juga tidak cair, saya angkat tangan karena tidak mampu lagi menanggung itu," katanya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved