Pertukaran Jurnalis Indonesia Swiss

[BAGIAN 6] Apakah di Negaramu Ada Partai Hijau?

Dia bercerita pernah bertemu warga Penang, Malaysia, yang mengikuti program kunjungan ke Swiss.

Penulis: Dian Lestari | Editor: Steven Greatness
TRIBUN PONTIANAK FILE/CÉCILE RAIS
Dian Lestari, jurnalis Tribun Pontianak bersama Adèle Thorens Goumaz, anggota Les Verts (Partai Hijau), di Gedung Palais Fédéral, Bern, Swiss, Kamis (2/62016). 

TRIBUNPONTIANAK,CO.ID - Satu pertanyaan anggota parlemen Swiss, Adèle Thorens Goumaz, menyentak saya tentang fakta bahwa hingga kini Indonesia tidak memiliki Partai Hijau, yakni partai dengan fokus perjuangan untuk kelestarian lingkungan hidup.

Partai Hijau di Swiss berupaya keras, agar Swiss tidak menjalin kerjasama dengan pelaku bisnis kelapa sawit yang merusak lingkungan dan sosial masyarakat.

Melangkahkan kaki ke area Palais Fédéral atau Istana Federal Swiss di Ibu Kota Swiss, Bern, Kamis (2/6) saya seperti ditarik mundur seabad lebih. Gedung mewah ini bergaya arsitektur klasik. Dinding, pintu, dan kubah terlihat kokoh, meski usianya sudah 114 tahun. Catatan di wikipedia menyebutkan bahwa gedung ini dibuka bagi publik sejak tahun 1902.

Setelah melewati area pemeriksaan barang-barang dan menyerahkan kartu identitas kepada petugas keamanan, saya dan Cécile harus duduk menunggu beberapa menit menunggu Adèle Thorens Goumaz, selesai bersidang dengan para anggota parlemen. Sembari duduk, saya memandangi puluhan anak tangga, dan langit-langit di kubah yang dihiasi lukisan kaca simbol 22 kanton (negara bagian) Swiss.

Cécile menjelaskan bahwa Palais Fédéral selama empat tahun masa tugas, anggota parlemen hanya mendatangi gedung ini ketika masa sidang berlangsung, yakni beberapa pekan setiap tahun.

Selebihnya gedung tersebut sepi. Para anggota parlemen di luar masa sidang, menjalani profesi masing-masing sebagai petani, pengacara, dan lain-lain.

"Di sini banyak petani yang jadi anggota parlemen. Petani adalah profesi prestisius. Sebaliknya gaji anggota parlemen tidak besar," kata Cécile.

Saya menyampaikan opini kepada dia. "Rasanya kecil kemungkinan jika petani di Indonesia menjadi anggota parlemen. Pada umumnya petani tidak punya pendidikan tinggi dan pendapatannya kecil," ujar saya kepadanya.

Tak lama setelah perbincangan singkat itu, beberapa anggota parlemen ke luar dari ruang sidang dan menuruni anak tangga. Perempuan berambut cokelat dan tinggi semampai, menghampiri saya dan Cécile.

"Maaf kalian harus menunggu. Sidang baru saja selesai," kata Adèle kepada kami.

Lantas dia mengajak kami menaiki tangga, lalu berbelok kiri menuju area selasar berlantai parket kayu. Sejenak sembari berjalan, saya memandangi langit-langit selasar dihiasi lukisan.

Di selasar kami bertiga duduk berdiskusi. Sebelumnya Cécile bercerita bahwa kami beruntung mendapat kesempatan langka, memasuki selasar bersejarah itu. Selama tujuh tahun menjadi jurnalis, Cécile baru kali ini wawancara di ruang tersebut.

Adèle membuka cerita tentang partainya, yakni Les Verts atau Partai Hijau yang dirasanya telah sukses mencegah parlemen Swiss membahas kemungkinan kerjasama dengan Malaysia, terkait bisnis kelapa sawit.

"Selama sembilan tahun di parlemen, bagi saya hal ini adalah sukses besar. Mayoritas anggota parlemen tidak ingin Swiss memakai minyak kelapa sawit yang merusak ekologi dan sosial masyarakat," kata perempuan yang bekerja untuk WWF itu.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved