Pertukaran Jurnalis Indonesia Swiss

[BAGIAN 1] Mengawinkan Teknologi dan Jurnalisme

Selanjutnya dia memaparkan bahwa kunci objektivitas strategi pengembangan teknologi digital di Swiss.

Penulis: Dian Lestari | Editor: Steven Greatness
TRIBUN PONTIANAK FILE/ISTIMEWA
Dian Lestari, jurnalis Tribun Pontianak (duduk, kedua dari kanan) bersama 13 jurnalis dari Swiss, Rwanda, Togo, Kamerun, Madagaskar, Senegal, dan Pantai Gading serta para pengurus dan mitra En quête d Ailleurs (EQDA) di Lausanne, Senin (30/5/2016). 

TRIBUNPONTIANAK,CO.ID - Selama sepekan, Dian Lestari, jurnalis Tribun Pontianak mengikuti program pertukaran jurnalis di Swiss. Jurnalis dari tujuh negara yang telah diseleksi lembaga En quête d'Ailleurs (EQDA) berpasangan dengan jurnalis Swiss. Para jurnalis saling menggali informasi dan pengalaman.

Tujuan program pertukaran jurnalis ini untuk membuka wawasan tentang perkembangan terkini pemanfaatan teknologi untuk jurnalisme dan mendorong kemajuan masyarakat di masing-masing negara.

Hari kedua menjejakkan kaki di Kota Lausanne, Senin (30/5) pagi saya dan enam jurnalis dari Rwanda, Togo, Kamerun, Madagaskar, Senegal, dan Pantai Gading berkumpul di gedung EQDA.

Kami bergabung dengan masing-masing rekan jurnalis dari Swiss yang akan menemani selama di Swiss. Cécile Rais, wartawan online Radio Télévision Suisse (RTS) menjadi rekan saya dalam menjalankan program bersama di Swiss dan Kalimantan Barat.

Sambutan hangat Cécile sejak di Bandara, mampu mengurangi penat yang saya rasakan setelah menempuh perjalanan dari Pontianak ke Lausanne sekira 23 jam. Dia berusaha keras menggunakan Bahasa Inggris untuk menjelaskan kepada saya tentang berbagai hal.

"Di sini saya sangat jarang berbahasa Inggris, tapi saya akan mencoba semaksimal mungkin berbahasa Inggris, dan menerjemahkan Bahasa Prancis, supaya kita bisa saling mengerti," kata Cécile.

Swiss adalah negara di Eropa yang sehari-hari penduduknya menggunakan Bahasa Prancis, Inggris, Jerman, dan Roman. Bahasa penduduk setempat sangat dipengaruhi letak kota. Seperti Jenewa dan Lausanne yang berbatasan dengan Prancis, penduduknya mayoritas berbahasa Prancis. Sedangkan penduduk Bern yang berbatasan dengan Jerman, berbahasa Jerman dengan versi Swiss (percampuran Bahasa Jerman dan Prancis).

Cécile memahami saya belum mampu berbahasa Prancis. Sangat berbeda dibanding enam jurnalis lain di negaranya masing- masing berbahasa Prancis. Masih sangat sedikit kosakata Bahasa Prancis yang saya pahami, bekal dari kursus selama beberapa bulan di Kedai Perancis Universitas Tanjungpura.

"Terimakasih Cécile. Saya baru bisa sebatas membaca tulisan dan bicara kalimat pendek dalam Bahasa Prancis," kata saya.

Claire Neyroud dari EQDA, juga banyak membantu memahami hal-hal baru bagi saya di Swiss. "Saya pernah beberapa tahun lalu ke Jakarta. Saya bisa mengerti perbedaan cuaca dan aturan di sini," tuturnya sembari menyetir ketika mengantarkan saya dari Bandara Jenewa ke Lausanne.

Kami menempuh perjalanan sekira 64,3 kilometer. Sepanjang jalan saya disuguhi pemandangan indah di kiri kanan jalan. Perkebunan anggur, bukit, gunung es, dan air jernih Danau Jenewa yang memisahkan Swiss dan Prancis.

Ketika kami semua berkumpul, cuaca dingin musim semi berkisar 16 derajat di luar gedung EQDA, kontras dengan diskusi hangat. Sebelum acara resmi dimulai, kami sarapan sambil saling berkenalan, bercerita tentang kondisi negara masing-masing dan apa saja rencana peliputan.

Ketika mulai diskusi formal, Chrisophe Chaudet, presiden Asosiasi EQDA dan Asisten Manager Program RTS, mengucapkan selamat kepada 14 jurnalis yang mengikuti program tahun ini.

"Program tahun ini untuk memahami dampak digitalisasi di era sekarang. Bagaimana dampaknya terhadap sosial ekonomi dalam pembangunan," katanya. Marc-Henri Jobin, Pemimpin Dewan Pengurus EQDA menambahkan bahwa penggunaan teknologi penting untuk menghasilkan pemahaman bersama.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved