Obsesi Menduniakan Tenun Kalbar

Seperti songket Sambas yang berkat olahannya tidak hanya sekedar menjadi bawahan dan digunakan pada acara resmi.

Penulis: Nasaruddin | Editor: Arief
Obsesi Menduniakan Tenun Kalbar - hamisah-1_20160612_111356.jpg
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ANESH VIDUKA
Hamisah
Obsesi Menduniakan Tenun Kalbar - hamisah-2_20160612_111343.jpg
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ANESH VIDUKA
Hamisah
Obsesi Menduniakan Tenun Kalbar - hamisah-3_20160612_111407.jpg
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ANESH VIDUKA
Hamisah

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Kain sarung (tradisional) hasil kerajinan masyarakat identik dengan penggunaan pada hari-hari tertentu khususnya acara resmi. Ada juga yang membuatnya menjadi buah tangan bagi tamu-tamu.

Di tangan Hamisah, kain tenun seperti songket Sambas dan sidan dari Kapuas Hulu tak sekedar "tradisional". Kreasinya, menghasilkan gaun kekinian dan tak terbatas ruang maupun waktu.

Seperti songket Sambas yang berkat olahannya tidak hanya sekedar menjadi bawahan dan digunakan pada acara resmi. Songket dibuatnya menjadi gaun yang bisa digunakan untuk acara tidak resmi sekalipun.

"Ini yang songket Sambas. Jadi di atas pakai teratai, ini songketnya, di sini pengembangan motif dan ini pengembangan teratainya," kata Hamisah seraya menunjukkan satu di antara karyanya, Jumat (10/6/2016).

Tak hanya songket Sambas. Dirinya juga membuat gaun nan anggun dari sidan. Bahkan gaun kombinasi sidan sempat mendapat pujian di luar negeri. Saat itu, gaun yang menyertakan sidan pada bahannya digunakan dr Niken Manohara, istri Brigjend Arief Sulistyanto, Kapolda Kalbar ketika itu. Niken yang saat itu sedang berumrah, mendapat sambutan hangat dan pujian dari petugas kemanan (laskar) di Arab Saudi karena pakaian yang digunakannya.

"Cerita dari Bu Niken, petugas itu senang dengan baju yang dikenakan. Lalu saat itu juga ibu dipeluknya. Kemudian laskar itu bilang bagus ya bajunya. Juga ditanya motifnya apa. Jadi sampai dibawa ke Mekkah pun orang-orang suka," kata Hamisah.

Dalam kreasinya, kain khas daerah memang lebih ditonjolkan. Bukan sekedar aplikasi bagian tertentu yang bisa membuat rasa tradisionalnya hilang. Dirinya bahkan tidak ingin bahan etnik tertutupi. "Kita desain sesuatu ingin menunjukkan ciri khas dari bahan yang kita buat. Jadi bagaimana ciri khasnya keluar. Jangan sampai bahan etnik tertutupi," katanya.

Ibu tiga anak yang mendapat ilmu fashion dari SMKN 5 Pontianak ini mengatakan, menjadi tugas para desainer termasuk dirinya untuk membuat kain sarung (tenun) khas Kalbar bisa dikenal di luar bahkan Internasional. Dan Hamisah memiliki obsesi itu.

"Sekarang sarung corak insang, jangan hanya dipakai untuk acara resmi. Tapi bagaimana anak-anak muda juga tertarik-tarik menggunakannya. Digunakan sehari-hari. Dipakai untuk mereka ke mall dan pusat keramaian lain. Tentu dengan style yang pas ke mereka," katanya.

Wnaita kelahiran Pontianak 23 Juni 1983 ini memiliki cita-cita membawa songket sambas, sidan kapuas hulu, corak insang Pontianak dan kerajinan kain masyarakat Kalbar lainnya bisa go Internasional. Bukan hanya sekedar dikenal di tingkat nasional. Dirinya menyadari hal itu memang tidak mudah namun bisa dilakukan. "Dan itu PR yang sangat berat," katanya.

Pemegang Kunci
Mereka yang mendapat ilmu fashion di sekolah, merupakan pemegang kunci. Selanjutnya tergantung pada pemegang apakah kunci itu digunakan membuka wawasan atau hanya sekedar disimpan.

"Mereka sudah memegang kunci keterampilan. Kalau kunci itu digunakan, bisa membuka wawasan. Mereka bisa menciptakan fashion untuk sendiri atau orang lain. Tapi jika disimpan maka tidak jadi apa-apa," kata Hamisah.

Itu pula yang selalu diingatkannya bagi junior-juniornya di SMKN 5 Pontianak. Bagaimana setelah mereka tamat sekolah, bisa memanfaatkan dan mengembangkan ilmu yang sudah diperoleh.

"Sayang kan. Kunci sukses sudah punya. Ilmunya sudah ada. Tapi malah jadi SPG misalnya, mereka tak berkembang. Hanya bekerja dan kerja. Itupun ada batas waktunya. Kalau pas mereka masih cantik mereka masih dipakai. Tapi kalau sudah tidak lagi, selesai," katanya.

Berbeda dengan di fashion, yang akan membuat mereka berkembang. Mengeluarkan ide-ide sampai merubah arah kiblat fashion. "Kita bisa mengeluarkan ide ide. Bisa menciptakan fashion untuk diri sendiri dan orang lain. Bahkan mengubah arah kiblat fashion kita bisa gunakan itu. Fashion juga berguna untuk kebanggaan diri sendiri. Terutama saat desain kita bisa diterima. Jadi bisa membuat orang lain senang, kita juga senang," ujarnya.

Biofile
Nama : Hamisah
Tempat tanggal lahir: Pontianak, 23 Juni 1983
Suami: Iwan Victor Hasibuan
Anak:
* Wafi Pratama Hasibuan
* Allequa Fuya Firjatullah Hasibuan
* Iqbal Hasbi Baihaqi Hasibuan
Pendidikan:
SDN 05 Pontianak
SMPN 04 Pontianak
SMKN 05 Pontianak
Penghargaan
* Juara 1 lomba kreasi batik Kalbar
* Peserta Jakarta Fashion Food Festival

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved