Harga Karet Membaik, Petani Kembali Bergairah Noreh

Kemerosotan harga karet beberapa tahun terakhir diakui membuat para petani kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.

Penulis: Jimmi Abraham | Editor: Steven Greatness
TRIBUN PONTIANAK/RIZKY PRABOWO RAHINO
Seorang Petani Karet, Didi (39) sedang menoreh getah di Desa Gurung Kempadik, Kecamatan Sungai Tebelian, Kabupaten Sintang, Kamis (28/4/2016). 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Naiknya harga jual komoditas karet secara perlahan di angka Rp 9.000 per kilo gram disambut baik para petani karet di Desa Gurung Kempadik, Kecamatan Sungai Tebelian, Kabupaten Sintang, Kamis (28/4/2016) siang.

Apalagi mayoritas masyarakat Kabupaten Sintang menggantungkan mata pencaharian dari perkebunan karet dan sawit. Kemerosotan harga karet beberapa tahun terakhir diakui membuat para petani kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.

"Kalau daerah lain ada komoditas lain yang bisa diekspor, seperti lada. Tapi kalau di sini tanahnya kurang subur dan tidak cocok," ungkap Didi (39), petani karet desa Gurung Kempadik, Kecamatan Sungai Tebelian.

Saat harga karet jatuh di kisaran Rp 3.000 per kilo, guna mencukupi kebutuhan istri dan ketiga anaknya. Didi sempat banting setir jadi supir mobil ekspedisi Jurusan Pontianak-Sintang dan pekerja emas di Ketapang.

Kenaikan harga karet petani yang dihargai Rp 7.500-8.000 oleh pengepul, dirasa Didi membuat petani cukup terbantu. Kebutuhan sehari-hari sudah agak mudah terpenuhi. Paling dahsyat efeknya adalah melecut motivasi petani.

"Petani jelas termotivasi, yang sebelumnya sempat malas-malas noreh sekarang sudah bergairah kembali," ucapnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved