Bisnis Mendunia Bermodal Aplikasi

Benny masuk daftar Forbes, setelah sukses memanfaatkan teknologi dengan membuat Qlapa

SHUTTERSTOCK
Ilustrasi 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Seorang pemuda kelahiran Pontianak 27 April 1990, Benny Fajarai, berhasil menasbihkan namanya dalam sejarah, masuk daftar 30 jajaran pemuda di bawah 30 tahun yang sukses memanfaatkan teknologi versi majalah ekonomi bergengsi tingkat dunia, Forbes. Namanya bersanding dengan pengusaha muda lainnya se Asia seperti Jepang, India, Australia, China, Myanmar, Philipina.

Selain Benny, ada pula nama pengusaha muda Indonesia yakni Kevin Aluwi (27) Cofounder & CFO, Go-JeK. Mereka adalah bagian dari Generasi Milenial (kelahiran 1980-an -1990-an) - atau disebut sebagai generasi Y. Generasi yang bertumbuh dengan keleluasaan informasi. Bukan generasi yang bisa dipengaruhi dengan iklan, "percayalah, ini kecap nomor satu".

Benny masuk daftar Forbes, setelah sukses memanfaatkan teknologi dengan membuat Qlapa, situs jual-beli kerajinan tangan unik. Seperti furnitur, pakaian, tas, dekorasi, serta kerajinan buatan tangan asli Indonesia. Benny nangkring pada posisi kesepuluh dalam daftar hebat Forbes tersebut. Wajah Benny masih terpampang pada laman http://www.forbes.com/30-under-30-asia-2016/consumer-tech/# 6cbc2546777b.

Kesuksesan yang telah diraih Benny, pendiri laman qlapa.com, CEO sekaligus pendiri layanan Kreavi.com, sebuah jejaring dan marketplace kreatif pertama di Indonesia yang berdiri tahun 2012 ini bukan saja membanggakan masyarakat Pontianak dan Kalbar, namun juga Indonesia. Kami menjadikannya sebagai liputan khusus Tribun Pontianak mulai edisi hari ini.

Pencapaian prestasi Benny ini sekaligus membuktikan bahwa dunia bisnis sekarang telah berubah, telah terjadi transformasi bisnis konvensional menjadi bisnis yang bertajuk online. Orang-orang berlomba untuk meraup keuntungan dan pendapatan yang lebih dengan memanfaatkan teknologi internet.
Seperti halnya penulis sampaikan dalam editorial kemarin bahwa bisnis berbasis aplikasi online, termasuk angkutan adalah sebuah keniscayaan.

Karena kemajuan teknologi digital tidak terbendung lagi dalam kehidupan sehari-hari. Pada dasarnya keberhasilan dari transformasi bisnis konvensional menjadi bisnis online terletak pada kemauan untuk berubah, jika tidak ada kemauan untuk menghadapi perubahan maka transformasi tersebut tidaklah berhasil. Persis kata Charles Darwin, bukan yang terkuat yang akan bertahan, tetapi yang mampu beradaptasi dengan perubahan.

Maka, mau tak mau kita harus berdamai dengan perubahan, bukan menentang. Seperti dalam kasus perseteruan antara sopir dan pengusaha taksi konvensional di Jakarta melawan angkutan berbasis aplikasi online, seperti Uber, Grab, dan ojek online; Go-Jek. Pengusaha taksi konvensional harus segera berbenah melakukan perubahan secara internal.

Mengutip Rhenald Kasali, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, hadirnya taksi berbasis aplikasi (demikian juga laman bisnis qlapa.com, kreavi.com yang didirikan Benny-red), adalah penanda datangnya era crowd business. Yakni bisnis yang serba tidak jelas. Misalnya, tidak jelas batasan antara produsen dan konsumen. Juga, tidak jelas kreditor dengan debitor.

Siapapun bisa menjadi pemasok Anda, tetapi sekaligus menjadi konsumen Anda. Crowd business kian kencang berputar akibat kemajuan teknologi informasi-yang terutama membuat arus informasi mengalir deras dan sekaligus memangkas biaya-biaya transaksi. Dulu kalau kita mau mencari suatu barang mesti menghabiskan waktu, tenaga dan uang. Kita datang ke beberapa toko, melihat barang, membandingkan harganya, dan melakukan tawar-menawar.

Jika setuju, baru kita membayar. Kini tidak perlu lagi. Kita cukup berselancar di dunia maya, mencari barang dan membandingkannya, memilih, memesan, lalu membayar. Semuanya bisa dilakukan tanpa kita harus beranjak dari kursi dan dengan biaya nyaris nol. Jadi selamat datang di perabadan sharing ecnomomy. Di sini efisiensi menjadi kenyataan, karena kita saling mendayagunakan segala kepemilikan yang tadinya idle dari owning economy. (*)

Penulis: Ahmad Suroso
Editor: Arief
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved