Suku Bunga Hambat Daya Saing Pengusaha Lokal

Kita melihat itu ada karena sudah konsekuensi dari kesepakatan yang telah disetujui.

Penulis: Dedy | Editor: Arief
KOMPAS/HERU SRI KUMORO
Ilustrasi 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pemerintah kembali mengeluarkan kebijakan paket ekonomi X pada Kamis (11/2/2016) lalu. Dalam paket tersebut ada 35 bidang usaha yang diperbolehkan 100 persen bagi investor asing.

Padahal sebelumnya, bidang usaha tersebut dibatasi dan bahkan ada beberapa yang dilarang untuk asing.

Menanggapi hal tersebut Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kalbar, Soetaryo mengatakan adanya kebijakan tersebut sebagai konsekuensi dari telah mengikuti diberlakukanya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Menurutnya dalam kesepakatan Mea sudah jelah bahwa arus barang, orang dan modal merupakan hal yang sudah bebas masuk.

"Kita melihat itu ada karena sudah konsekuensi dari kesepakatan yang telah disetujui. Asing masuk tidak masalah karena ia membantu mengelolah dari sumber daya yang kita tidak mampu olah," ujarnya kepada Tribunpontianak.co.id saat dihubungi, Senin (15/2/2016).

Namun menurut Soetaryo, asing akan dilihat dapat bermasalah ketika para pengusaha dalam negeri akan tersaingi. Di mana asing yang membawa modal dari negeri mereka dengan bunga yang rendah dari pinjaman negara mereka berasal.

Sementara untuk pengusaha lokal akan sulit bersaing karena modal yang mereka pinjam suku bunganya sangat tinggi. Sehingga perbedaan suku bunga dalam penguatan invetasi di akan bisa mengeser pengusaha lokal yang ada.

Belum lagi biaya logistik di Indonesia masih tinggi dan birokrasi yang masih panjang sehingga menghambat untuk bersaing lebih maksimal.

"Dilema juga kalau soal suku bunga ini. Mereka pengusaha asing akan memiliki modal yang besar sebab bunga pinjaman di sana kecil sementara kita tinggi. Di sisi lain wajar bunga mereka rendah karena inflasi di sana stabil atau rendah. Sedangkan inflasi di kita tinggi sehingga wajar lagi bunga kita tinggi," ujarnya.

"Dari hal demkian perlu kerja keras pemerintah agar mengatasi inflasi yang tinggi agar suku bunga kita rendah dan ekonomi kita bergairah," katanya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved