Hutan Adat Pangajid Dikunjungi Tiga Guru Besar

Luas hutan adat Pangajid yang hanya sekitar 200 hektare telah menarik minat para peneliti untuk melihat dan melakukan penelitian di Kawasan hutan itu.

IST
Hutan adat Pangajid Desa Sahan, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat, dikunjungi oleh tiga Guru Besar pada Sabtu (7/2/2016). Guru besar tersebut adalah Prof .Dr. Zephirin Mouloungul dari Universitas Toulouse Francis, Prof. Dr. Thamrin Usman DEA Rektor Universitas Tanjung Pura, dan Dr.Ir. Gusti Hardianyah, M.Sc, QAM dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura. 

Citizen Reporter 

Direktur Lembaga Pengkajian dan Studi Arus Informasi Regional(LPS-AIR), Deman Huri

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Hutan adat Pangajid Desa Sahan, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat, dikunjungi oleh tiga Guru Besar pada Sabtu (7/2/2016). Guru besar tersebut adalah Prof .Dr. Zephirin Mouloungul dari Universitas Toulouse Francis, Prof. Dr. Thamrin Usman DEA Rektor Universitas Tanjung Pura, dan Dr.Ir. Gusti Hardianyah, M.Sc, QAM dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura.

Kunjungan ini bertujuan untuk melihat potensi desa dan hutan adat di Desa Sahan Kabupaten Bengkayang. Luas hutan adat Pangajid yang hanya sekitar 200 hektare telah menarik minat para peneliti untuk melihat dan melakukan penelitian di Kawasan hutan tersebut.

Hutan adat Pangajid memiliki tumbuh-tumbuhan langka khas Kalimantan Barat seperti Tengkawang, Gaharu, Meranti, Nau, Resak, berbagai jenis angrek, dan lain-lain.

Profesor Dr.Thamrin Usman DEA Rektor Universitas Tanjung Pura dalam sambutanya mengatakan, kunjungan ini merupakan awal dari kepedulian Universitas Tanjungpura kepada masyarakat yang telah berjuang mempertahankan kawasan hutan.

“Masyarakat Dusun Malayang telah berjuang mepertahankan kawasan hutanya yang sangat potensi secara ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Thamrim guru besar Kimia Universitas Tanjungpura.

Ia menuturkan, dahulu pohon tengkawang ditebang oleh masyarakat. Maka dimulai hari ini jangan ditebang lagi. Karena buah pohon tengkawang bisa dimamfaatkan menjadi berbagai jenis produk seperti kosmetik, obat-obatan, makanan, mentega dan lain-lain.

Tharim menjelaskan, kedatanganya bersama peneliti senior dari salah satu universitas Francis tidak lain untuk melihat potensi tengkawang di kawasan Desa Sahan.

“Prof .Dr. Zephirin Moulogul telah membuat varian produk dari mentega tengkawang yang dibuat masyarakat Desa sahan menjadi komestik. Yang nantinya akan meningkatkan harga buah tengkawang, sehingga pohon-pohon tengkawang di Kalbar tidak ditebangi,” kata Tharim.

Halaman
123
Penulis: Stefanus Akim
Editor: Mirna Tribun
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved