Gerakan Fajar Nusantara

Pengolahan Air Eks Gafatar Gunakan Bahan Sederhana

Kalau dulu pernah menggunakan sungai kecil, tapi ternyata lama-lama menjadi hitam, kemudian saya berpindah di sungai besar.

Penulis: Tito Ramadhani | Editor: Arief
IST
Warga eks Gafatar mengolah dengan menggunakan air baku dari Sungai Mempawah (kiri) diolah menjadi air bersih yang bisa diminum. Teknologi pengolahan air minum ini disebut Water Flo yang ada di Desa Pasir, Kabupaten Mempawah. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, MEMPAWAH - Warga eks Gafatar, Amri Cahyono (34) menerapkan teknologi pengolahan air, namun dengan berbahan yang lebih sederhana.

"Tetapi kami membuatnya sesederhana mungkin, dengan teknologi modern itu, saya buat sederhana dan sangat lebih murah. Alat-alatnya sangat murah, meskipun masih serba manual dengan teknologi yang masih menggunakan manusia saja. Untuk pengadukannya masih menggunakan orang," jelasnya.

Suami Dafita (34) ini memaparkan tahapan-tahapan proses filtrasi air yang dirancangnya. Awalnya, ia mencoba memanfaatkan air dari sungai kecil, yang merupakan satu di antara tiga aliran sungai yang terdekat dengan pemukiman.

"Kalau dulu pernah menggunakan sungai kecil, tapi ternyata lama-lama menjadi hitam, kemudian saya berpindah di sungai besar. Saya ambil airnya dan dimasukkan ke bak, ada tiga bak besar yang kami bangun di sana. Itu bak untuk pengendapan," kata dia.

Setelah air dimasukan ke bak penampungan berukuran besar, berbahan terpal dan papan, air diendapkan dengan ditaburi tawas dan kapur. "Kalau kami menggunakan tawas saja. Tawas itukan orang sudah kenal untuk pengendapan atau penjernihan. Tetapi ternyata setelah beberapa kali ujicoba itu, pakai tawas saja masih kuning warnanya. Jadi nggak bagus," terangnya.

Ia kemudian menambahkan kapur, dan hasilnya ternyata bisa membuat kotoran lebih mengendap dan lebih membuat air menjadi jernih. Setelah menjadi jernih, air tersebut menurutnya langsung dapat digunakan untuk mandi dan mencuci.

"Untuk mengaliri satu permukiman di kawasan tersebut, kami buatkan tower yang di atasnya terdapat dua tandon air dengan kapasitas 20 ribu hingga 30 ribu liter per hari untuk semuanya," ungkapnya.

Air hasil yang sudah layak untuk mandi dan mencuci, lantas disaring kembali oleh Amri dengan menggunakan sekitar sepuluh filter yang berbungkus pipa pralon (PVC), dengan berisikan zeolit, pasir aktif, dan karbon aktif.

Air yang bersih tersebut, pernah diujikannya ke Laboratorium Penguji Dinas Kesehatan Kalbar pekan kedua Januari 2016.

"Air yang sudah kami gunakan untuk mandi dan mencuci, kami ambil lagi untuk khusus yang disaring menggunakan Zeolit (batu alam), pasir aktif dan karbon aktif. Kami punya sepuluh filter di sana, dari hasil filter itu bisa kami gunakan untuk memasak, jernih sekali airnya, saya periksakan ke laboratorium kesehatan daerah di Pontianak, hasil airnya itu luar biasa, sangat layak untuk di minum," tuturnya.
Uji Air Bersih
Ayah dari Ahmad Syakila (8) dan Bunga Ayu (4,5) ini lantas menunjukkan lembaran hasil uji air bersih yang diperolehnya. Ia memaparkan, jika pada tabel pertama residu terlarut untuk mutu air kelas I maksimal 1.000, maka hasil uji air olahannya hanya 184.

Di lembaran tersebut tertulis, untuk mutu air kelas I adalah air untuk air baku air minum dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama. Tidak puas dengan karyanya, Amri kemudian meningkatkan kembali kualitas air yang diolahnya agar lebih baik dan layak untuk langsung diminum.

"Supaya bisa untuk langsung diminum, kami belikan lagi alatnya, ada alat penyaringan khusus yang lebih kecil lagi partikelnya dan bisa menghilangkan bakteri, sehingga airnya bisa langsung untuk diminum. Jadi air Sungai Mempawah yang tadinya kotor, bisa kami olah menjadi air untuk bahan baku masak dan bisa langsung di minum," terangnya.

Diakuinya, dari mulut ke mulut tersebarlah keberhasilannya dalam pengolahan air minum tersebut. Banyak yang melirik ingin mengetahui secara langsung seperti apa upaya Amri dan warga pemukiman, mengolah air sungai yang keruh menjadi layak konsumsi.

"Kemarin banyak yang melihat. Ada orang yang mengakunya dari PDAM Mempawah juga datang. Tanya-tanya sama saya. Saya jelasin, katanya orang PDAM, lalu banyak aparat juga yang datang. Mereka bilang lho kok bagus," kenangnya. (bersambung)

BACA JUGA: Eks Gafatar Olah Air Sungai, Bisa Langsung Diminum

BACA JUGA: Pengolahan Air untuk Satu Permukiman Eks Gafatar Telan Rp 15 Juta


Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved