Mengenal Stanting dan Risikonya

Stanting mengancam anak bangsa, masih ada 9,2 juta dari 24,9 juta anak di bawah lima tahun dan 37 persen di antaranya adalah stanting

TRIBUN/DOI
Diskusi publik dan perencanaan partisipatif kampanye gizi nasional di aula Dinas Kesehatan Landak, Rabu (20/1/2016). 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, LANDAK - Dinas Kesehatan Kabupaten Landak menggelar diskusi publik dan perencanaan partisipatif kampanye gizi nasional di Aula Dinas Kesehatan, 20-22 Januari 2016.

Bupati Landak Adrianus Asia Sidot yang diwakili Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Asuardi Daris mengatakan, Indonesia telah berhasil menurunkan angka kemiskinan dari 16,6 persen ditahun 2007 menjadi 12,5 persen ditahun 2011.

Namun gizi anak balita perlu penanganan serius dilakukan semua pihak yang satu di antaranya adalah stanting (pendek).

"Stanting mengancam anak bangsa, masih ada 9,2 juta dari 24,9 juta anak di bawah lima tahun dan 37 persen di antaranya adalah stanting. Di Kalbar 38,6 persen dan di Kabupaten Landak sebesar 32,69 persen berdasarkan riset kesehatan dasar tahun 2013 yang dilaksanakan Kementerian Kesehatan," ucapnya dalam sambutan, Rabu (20/1/2016).

Dia mengatakan, stanting berdampak pada meningkatnya risiko kesakitan dan infeksi, terhambatnya perkembangan otak dan fisik, rentan terhadap penyakit.

Selain itu stanting juga berisiko kurangnya pengetahuan, minimnya prestasi belajar dan ketika dewasa mudah mengalami kegemukan sehingga berisiko terkena penyakit jantung, diabetes dn penyakit tidak menular lainnya.

Stanting bisa dicegah dengan memastikan kesehatan dan kecukupan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan mulai dari janin sampai umur dua tahun.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved