Tertawa Lebih Mudah ketimbang Menangis
Para peneliti menyimpulkan, tertawa adalah reaksi alamiah manusia tanpa perlu belajar dan usaha.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Sebuah studi yang dilakukan oleh Max Planck Institute divisi Psycholinguistic di Nijmegen, Belanda, merangkum hasil penelitian yang mengatakan bahwa manusia memang terlahir dengan tangisan tetapi kemampuan alamiah manusia semenjak bayi adalah tertawa.
Sebab, peneliti mengungkapkan, setiap manusia butuh usaha dan tekanan pikiran untuk menangis. Namun, setiap manusia bisa tertawa dengan mudah tanpa alasan apa pun.
Studi yang melibatkan 16 responden dengan kondisi delapan orang penyandang tuli dan delapan orang memiliki gangguan pendengaran.
Seluruh responden diminta menyuarakan berbagai jenis emosi tanpa mengeluarkan kata-kata. Lalu, suara tersebut diperdengarkan oleh 25 relawan lainnya yang memiliki pendengaran normal.
Ternyata, sebanyak 25 relawan ditemukan hanya bisa mengenali suara tertawa dan desahan lega dengan mudah.
Para peneliti menyimpulkan, tertawa adalah reaksi alamiah manusia tanpa perlu belajar dan usaha.
Namun, jenis emosi lain, misalnya, sedih dan tangisan, membutuhkan usaha dan dorongan.
“Ini juga berarti bahwa mendengar suara hasil luapan emosional penting untuk perkembangan suara kita agar bisa dipahami oleh orang lain,” ujar Disa Sauter, Ketua Peneliti.
Kemudian, Sauter juga menambahkan bahwa tertawa dan tersenyum, merupakan dua respons emosional untuk meredam konflik menjadi sebuah empati antarsesama manusia.
Tim sauter merepresentasikan hasil penelitian ini pada sebuah konferensi di Acoustical Society of America, Cancun, Meksiko. (NewScientist)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/gadis-tertawa_20151225_214943.jpg)