Saat ini Kanker Payudara Pembunuh Nomor Dua Wanita

Trendnya naik terus secara signifikan sehingga ini sudah mengganggu dan menjadi ancaman bagi siapa saja tidak mengenal usia.

Saat ini Kanker Payudara Pembunuh Nomor Dua Wanita
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ANESH VIDUKA
Seminar Deteksi dini kanker payudara di Harris Hotel. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID,PONTIANAK - Persatuan Wanita Yayasan Bhakti Suci (PWYBS) menggelar seminar kesehatan dengan tema Deteksi Dini Kanker Payudara Demi Menyelamatkan Banyak Wanita Indonesia di Hotel Harris Jl Gajahmada, Sabtu (19/12/2015).

Narasumber seminar dr Alfiah Amiruddin, MD, MS menuturkan kanker payudara bukanlah hal yang baru karena sejak ia masih kecil juga ada, tetapi trendnya naik terus secara signifikan sehingga ini sudah mengganggu dan menjadi ancaman bagi siapa saja tidak mengenal usia, gender, status sosial ekonomi dan tingkat pendidikan.

“Dibandingkan dengan kanker leher rahim yang tadinya rangking satu, sudah menduduki rangking kedua diganti oleh kanker payudara. Oleh karena itu kenapa kita menganggap ini suatu kedaruratan khusus untuk wanita Indonesia karena kematian yang diakibatkan kanker payudara juga meningkat tajam,” ucapnya kepada Tribun, Sabtu (19/12/2015).

Dikatakan Alfiah, selain kasus yang meningkat secara signifikan, stadium tiga dan empatnya juga semakin banyak. Hal ini berbeda dengan negara-negara lain yang sudah berusaha semaksimal mungkin dan mereka mampu membawa stadium tiga dan empat ini semakin sedikit, tetapi yang lebih banyak mereka temukan ialah stadium satu dan dua.

Penyebab kanker payudara bisa terjadi karena karsinohenik, radikal bebas, tembakau, alkohol, makanan, stress, diabetes, kegemukan, faktor keturunan 5-10 persen dan sebagainya.

“Kanker payudara juga bisa menyerang laki-laki, tetapi kemungkinannya kurang dari satu persen, harapan hidup tergantung diagnosisi dan penanganan dini, untuk stadium I (95 persen), stadium II (87 persen), stadium III ( 56 persen) dan stadium IV (19 persen),” jelasnya.

“Kita lihat kecenderungan sekarang kanker payudara menyerang usia muda, yang tadinya 40 tahun keatas sekarang sudah belasan tahun juga ada, jadi trendnya naik bahkan yang termuda saya tangani 14 tahun,” timpalnya.

Menurut Alfiah, tanda-tanda maupun gejala tergantung pada jenis kanker dan stadiumnya. Saat ini sudah tidak bisa lagi mengidentikkan kanker payudara harus ada benjolan, ada jenis tertentu dimana tidak penah menemukan benjolannya.

Bahkan ada jenis tertentu yang tidak ada benjolan sama sekali hanya berupa butir-butir pasir lewat pemeriksaan mammografi. Inilah alasan kenapa pemeriksaan mammografi selalu diedukasi pada masyarakat karena dengan melakukan itu secara rutin diharapkan bisa menangkap gambaran butir-butir pasir yang kalau dioperasi pada waktu itu sangat bersar kemungkinan pasiennya tidak perlu di kemoterapi.

Halaman
12
Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano
Editor: Mirna Tribun
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved