Tahun 2016, Jokowi Diundang ke Vatikan

Pada tahun 2017 direncanakan Paus Fransiskus berkunjung ke Indonesia yang salah satu acaranya menghadiri Asian Youth Day (AYD) di Jogyakarta.

Tahun 2016, Jokowi Diundang ke Vatikan
IST
Ketua Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa), AM Putut Prabantoro ketika bertemu dengan Paus Fransiskus dalam Audiensi penutupan Konferensi Internasional memperingati 50 tahun dokumen Nostra Aetate (Pada Jaman Kita), pada Rabu (28/10). Nostra Aetate adalah dokumen independen Konsili vatikan II yang berbicara hubungan Gereja Katolik dan Agama Non_Kristiani. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Pada tahun 2017 direncanakan Paus Fransiskus berkunjung ke Indonesia yang salah satu acaranya menghadiri Asian Youth Day (AYD) di Jogyakarta. Dalam kunjungan itu, diharapkan juga Paus dapat mengunjungi Pontianak untuk bertemu dengan umat Katolik Regio Kalimantan. Namun kunjungan Paus itu baru terlaksana jika pemerintah Indonesia merestui dan mengundang Bapa Suci.

Terkait dengan hal itu, Vatikan melalui Menteri Luar Negeri Vatikan (Secretary of State) Kardinal Pietro Parolin telah bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Jakarta beberapa waktu lalu. Dalam pertemuan itu, Kardinal Pietro Parolin mengundang secara resmi Presiden Joko Widodo ke Vatikan yang direncanakan pada tahun 2016.

Demikian diungkapkan Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa), AM Putut Prabantoro di Jakarta, Senin (23/11) menyusul pertemuannya dengan Uskup Agung Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus di Pontianak beberapa hari lalu di Pontianak.

“Mgr Agustinus Agus secara resmi Vatikan melalui Kardinal Pietro Parolin mengundang Presiden Joko Widodo untuk berkunjung ke Vatikan. Menurut rencana, diharapkan kunjungan itu dapat dilakukan pada tahun 2016,” ujar Mgr Agus seperti yang dikutip Putut Prabantoro.

Hal ini terkait dengan kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia yang rencananya pada tahun 2017. Dalam kunjungan ke Indonesia tersebut, salah satu program yang akan dihadiri adalah menghadiri AYD. Acara itu merupakan program tiga tahunan yang sebelum ini diadakan di Korea Selatan.

“Tentu saja kunjungan ke Indonesia tersebut hanya bisa dilaksanakan jika pemerintah Indonesia mengundang dan sekaligus merestui kehadiran Bapa Suci,” ujar Putut Prabantoro mengutip penjelasan Uskup Agung Pontianak itu.

Masih mengutip penjelasan Mgr Agustinus Agus, Putut mengatakan umat Katolik Regio Kalimantan sangat berharap Paus Fransiskus juga dapat berkunjung ke Pontianak yang memiliki jumlah posentase umat Katolik terbesar kedua setelah Nusa Tenggara Timur (NTT). Kehadiran Bapa Suci itu di Pontianak, jika dimungkinkan, akan menjadi momentum yang penting bagi umat Katolik di Regio Kalimantan yang berada dalam dua keuskupan Agung yakni Keuskupan Agung Pontianak dan Keuskupan Agung Samarinda.

Keuskupan Agung Pontianak termasuk di dalamnya Keuskupan Sintang, Keuskupan Sanggau dan Keuskupan Ketapang. Sementara Keuskupan Agung Samarinda termasuk di dalamnya Keuskupan Tanjung Selor, Keuskupan Banjarmasin dan Keuskupan Palangkaraya.

Alasan yang kedua adalah terkait dengan ekologi. Melalui Ensiklik Laudato Si, Paus Fransiskus menunjukkan perhatiannya yang serius terhadap lingkungan hidup. Oleh karena itu, kunjungan Paus ke Kalimantan sangat kontekstual terkait dengan rusaknya hutan di Kalimantan.

Dengan demikian, kehadiran Bapa Suci tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat Kalimantan dan juga Indonesia pada umumnya secara sungguh-sungguh memelihara, menjaga dan menanam kembali hutannya yang sekarang sudah hancur tersebut.

Dalam ensiklik Laudato Si, Paus Fransiskus mengundang semua manusia kepada dialog terkait masa depan rumah bersama. Rumah bersama yang dimaksud oleh Paus Fransiskus adalah wujud komitmen kepada Ibu Pertiwi atau Ibu Bumi yang dipijak bersama dan yang memberi kehidupan bagi seluruh umat manusia.

“Mgr Agustinus Agus menyadari kehadiran Paus di Pontianak sangat tergantung pada ketersediaan waktu Bapa Suci. Sebagai Uskup Agung, beliau melihat kehadiran Paus Fransiskus di Pontianak memiliki arti yang sangat penting. Keuskupan Agung Pontianak menyediakan diri menjadi tempat kunjungan Paus di Regio Kalimantan,” ujar Putut Prabantoro, yang pada akhir Oktober lalu bertemu dengan Paus Fransiskus dalam audiensi di Vatikan.

Mewakili Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa), Putut Prabantoro bertemu dalam audiensi dengan Paus Fransiskus pada penutupan konferensi internasional dalam rangka memperingati dikeluarkannya dokumen Nostra Aetate (Pada Zaman Kita) ke 50 tahun pada akhir Oktober lalu. Konferensi tersebut dihadiri para pemimpin agama sedunia, para undangan dan tokoh. Selain Putut Prabantoro, delegasi dari Indonesia yang hadir dalam konferensi internasional itu adalah Hermawi Taslim, Ketua Forum Komunikasi Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (FORKOMA PMKRI).

Penulis: Stefanus Akim
Editor: Mirna Tribun
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved