Kisah Frans Jadi Keluarga Kehormatan Marinir
Saya ingat saat belajar survival. Saya ambil enceng gondok, saya masukan ke baju biar mengambang
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, YOGYAKARTA - Mampu bertahan selama tiga hari dua malam mengapung di perairan Danau Toba, Fransiskus Subihardayan (22) dijadikan keluarga kehormatan Marinir TNI AL.
Dia pun mendapat baret Marinir milik Ketua Tim SAR Serma Totok Santoso. "Saya ingat saat belajar survival. Saya ambil enceng gondok, saya masukan ke baju biar mengambang," ucap Fransiskus saat ditemui Kompas.com di rumahnya, Senin (19/10/2015).
Fransiskus adalah satu di antara penumpang helikopter EC-130 PK-BKA milik PT Penerbangan Angkasa Semesta dinyatakan hilang kontak, Minggu (11/10/2015).
Heli itu tengah dalam perjalanan dari Samosir menuju Kualanamu, Deli Serdang.
Frans bercerita, setelah helikopter tenggelam, ia masih bersama-sama dengan para awak helikopter lainnya.
Ia pun sempat menenangkan awak lainnya agar tidak panik dan tetap berusaha di permukaan. "Sekitar tiga jam, kita berpisah. Saya bersama Sugianto dan Paman (Nur Harianto) bersama yang lainnya," tandas dia.
"Tidak makan, hanya minum air danau. Kondisi badan lemas, tapi saya harus berusaha mencapai daratan," tegas dia.
Alhasil, berkat perjuanganya, Frans berhasil ditemukan tim SAR dan segera dilarikan ke rumah sakit.
Berkat kemampuanya bertahan hidup inilah, seorang anggota Marinir yang menjabat sebagai Ketua Tim SAR memberikan baretnya kepada Fransiskus Subihardayan.
Bahkan, Fransiskus diangkat sebagai keluarga kehormatan Marinir TNI AL. "Saya diberi baret dan baju Marinir sama Serma Totok," kata dia.
"Saya sudah bertemu komandan dan diangkat sebagai keluarga kehormatan Marinir," kata Frans.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/fransiskus-subihardayan_20151019_144848.jpg)