Sajingan Batas Negeri di Utara Kalbar

Toleransi Bikin Ibadah Puasa Tetap Khusyuk

Suasana Ramadan di Sajingjuga terasa. Meski tak seramai di Sambas namun tetap khusyuk. Toleransi tinggi, anak-anak dididik agar paham makna puasa.

Penulis: Stefanus Akim | Editor: Stefanus Akim
Tribun Pontianak/Stefanus Akim
BORDER - Seorang pengunjung mengambil foto di Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB) Aruk, di Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas. Sebagian besar warga membeli kebutuhan di Malaysia karena lokasinya yang tak terlalu jauh. Stefanus Akim/Tribun Pontianak. 

Muslim di Kecamatan Sajingan Besar tergolong minoritas. Meski demikian toleransi antarpemeluk agama berjalan baik. Saat menjalani ibadah puasa, mereka tak kalah khusyuk dibandingkan umat Muslim di tempat lain.

Hendri Konok (46), satu di antara tokoh pemuda Kecamatan Sajingan Besar juga merupakan pemeluk Islam yang taat. Saat bulan puasa seperti ini keluarga besarnya paham kewajiban agama yang harus dijalankan Hendri. Hendri yang memutuskan memeluk Islam tersebut mengaku hubungan antarkeluarga serta warga sekitar terjalin dengan baik.

Saat ini setidaknya ada empat masjid berada di kecamatan yang berbatasan langsung dengan Distrik Biawak, Sarawak, Malaysia tersebut. Saat bulan puasa seperti ini Hendri dan istrinya Lustriati selalu menjaga suasana puasa dalam keluarganya.

Meskipun anak-anaknya bergaul dengan saudara-saudaranya yang non-Muslim, namun ia tak perlu khawatir karena keluarga besar serta warga sekitar sudah tahu anaknya berpuasa.

"Anak-anak juga sudah dilatih sejak dulu jadi sudah paham dan saling meghormati," kata Hendri.

Namun untuk anaknya yang kecil Hendri mengurangi kegiatan di luar rumah. Hal itu dilakukan agar sang anak bisa khusyuk melakukan ibadah puasa. Sedangkan dua anaknya yang sudah besar, yaitu SMA dan SMP melakukan aktivitas seperti biasa.

Hendri yang memiliki banyak kegiatan di antaranya Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), wirausaha yang membuka warung serta tempat kursus komputer, serta aktif di sejumlah kegiatan pemberdayaan mengaku tak ada halangan dalam interaksi sosial. Di Dusun Keranji tempat Hendri Konok tinggal setidaknya ada 11 keluarga Muslim.

Dituturkan, saat bulan puasa seperti ini masjid biasanya cukup penuh. Umat yang sembahyang dan tarawih tak hanya warga setempat, namun juga PNS Imigrasi, TNI/Polri, serta pegawai kecamatan yang bertugas di batas negara tersebut. "Kalau salat Jumat rata-rata bisa terisi 4 sap," kata Hendri.

Hendri mengaku Kecamatan Sajingan Besar sudah sangat terbuka dengan perbedaan kepercayaan. "Asalkan untuk kemajuan bersama tentu tak masalah," ujarnya.

Keluarga Muslim lainnya adalah Espahani (45). Warga asal Sambas ini sudah sejak tahun 1990 menetap di Kecamatan Sajingan Besar. Awalnya ia bertugas sebagai tenaga honorer penyuluh pertanian di Badan Ketahanan Pangan, Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan. Pada 2006 lalu, Espahani diangkat sebagai PNS, ia dan keluarganya menetap di Sajingan Besar.

"Suasana Ramadan di sini juga terasa. Meski tak seramai di Sambas namun kami masih bisa khusyuk. Toleransi tinggi, anak-anak kita didik sehingga mereka juga bisa melaksanakan puase," katanya.

Namun menurut dia yang berbeda jika di Sambas atau tempat lain banyak pasar juadah yang menjual takjil untuk berbuka. Sedangkan di Sajingan, menu berbuka puasa mulai dari kue hingga minuman dan makanan lain dibuat sendiri.

Espahani dan umat Islam yang lain menjalankan tarawih selama bulan Ramadan serta salat Jumat di Masjid Sabilal Muhtadin yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Selain Masjid Sabilal Muhtadin di Sajingan Besar juga ada masjid yang dibangun di kompleks Brimob serta ada dua surau.

Untuk memenuhi kebutuhan pokok serta barang-barang berbuka puasa mereka mendatangkan dari Lundu, Malaysia. Namun terkadang juga dari Kecamatan Galing di Sambas atau bahkan di Kota Sambas sendiri.

Di keluarga Hendri Konok juga ada menu-menu spesial saat bulan puasa. "Biasanya pilihan lauk san sayurnya lebih banyak dari hari biasa," tutur Hendri.

Ia biasanya berbelanja ke Malaysia untuk barang-barang tertentu. Misalnya harga daging Sapi beku di Lundu sekitar Rp 90 ribu, sedangkan sapi segar di Indonesia berkisar di harga Rp 120 ribu.

"Mentega juga kita beli di Malaysia. Namaun kalau pakaian biasanya dari Indonesia karena pilihan dan modelnya lebih beragam dan bagus. Bisanya beli ke Sekura, ke Singkawang atau Pontianak, tergantung anak-anak maunya ke mana," kata Hendri.

Memenuhi kebutuhan makanan dari Malaysia juga dilakukan oleh Espahani. Ia membeli daging sapi beku dari Malaysia. "Tapi memang rasanya agak tawar (hambar, red) mungkin karena sudah dalam kulkas. Ayam juga kita beli ke sana harganya sekitar Rp 32 ribu perkilogram dan juga sudah dipotong. Sedangkan di tempat kita sekitar Rp 30 ribu namun belum dipotong," ungkap Espahani.

Toleransi beragama dibenarkan tokoh masyarakat Kecamatan Sajingan Besar, Mulyadi (42). Menurut Mulyadi yang juga anggota Panwascam masyarakat sudah terbiasa hidup berdampingan dengan baik dan saling menghormati.

"Pada hari perayaan keagamaan kami saling mengunjungi. Kalau Natal teman-teman dan keluarga yang Muslim berkunjung pada hari kedua. Sebaliknya kalau mereka Idul Fitri giliran kami yang berkunjung," kata Mulyadi, pemeluk Katolik.

Bahkan saat upacara adat, masyarakat Dayak yang memeluk agama Islam pun biasanya hadir. Apalagi di antara mereka masih memiliki ikatan keluarga dibuktikan dengan kebun buah turun-temurun seperti durian yang masih tetap dijaga bersama.

Data dari kantor Camat Sajingan Besar menyebutkan ada 2.547 kepala keluarga di lima desa di Kecamatan Sajingan Besar. Dari jumlah tersebut total penduduk mencapai 11.197 jiwa. Dari jumlah tersebut ada 7.985 pemeluk Katolik, 1.836 pemeluk Kristen Protestan, serta 938 jiwa pemeluk Islam.

Penyebaran umat Islam terbanyak di Desa Sebunga mencapai 330 jiwa, selanjutnya Desa Sanatab 241 jiwa, Kaliao sebanyak 174 jiwa, Santaban sebanyak 136 jiwa, dan terakhir 57 jiwa di Desa Sungai Bening. Kecamatan Sajingan Besar memang berada di batas negeri di utara Kalbar, namun toleransi serta persaudaran tetap terjaga. *

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved