Breaking News:

Mengintip Taman Wisata Alam Tanjung Belimbing

Mereka berdua setiap malamnya bertugas mencari sarang-sarang penyu untuk kemudian dibawa telurnya ke demplot penetasan yang di pagar.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/NOVI SAPUTRA
Tukik bergerak ke arah laut sesaat setelah dilepaskan di Tanjung Belimbing. 

"Ari dan Reza telaten mengambil tukik dari demplot pembesaran, satu persatu tukik mereka masukkan kedalam wadah berukuran segi empat. Rencananya sore Rabu (27/5/2015) Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam Wilayah Tiga bersama Aliansi Jurnalis Independen Pontianak hendak melepaskan sejumlah tukik, memperingati hari Penyu Internasional."

Ari dan Reza sejak awal 2015 telah menjadi tenaga kontrak di Taman Wisata Alam Tanjung Belimbing, mereka berdua setiap malamnya bertugas mencari sarang-sarang penyu untuk kemudian dibawa telurnya ke demplot penetasan yang dipagar setinggi kurang lebih dua meter.

Upaya ini dilakukan untuk menghindari aktifitas pencurian telur oleh orang tidak bertanggungjawab, selain itu menghindarkan sarang penyu dari musuh alaminya dialam seperti biawak.

Ari dan Reza mengaku tak takut jika menghadapi para pencuri telur. ”Takutnya sama hantu,” kata Ari polos yang diamini Reza.

Reza dan Ari setiap malam melakukan “patroli” pencarian sarang dengan radius beberapa kilometer dari pos mereka di demplot. Oleh masyarakat Sambas, Tanjung Belimbing lebih dikenal dengan sebutan Pantai Selimpai. Pantai asri dengan pepohonan kelapa dan pasir yang masih alami menjadi daya tarik tersendiri.

Kepala Resort KSDA Paloh, Asep menceritakan pada masa puncak peneluran terutama dari Mei hingga penghujung tahun, dalam setiap malam acapkali ditemukan lima hingga 10 jejak maupun sarang penyu. “Bisa di atas angka itu, kalau pada hari biasa kadang lima sarang,” ujar Asep.

Kata Asep TMA memiliki areal seluas 810,3 hektar disekitar hutan TMA juga acapkali terlihat hewan endemik Kalimantan yakni Bekantan, untuk telur yang dipindah ke demplot penetasan kata Asep akan diberi perlakuan semi alami.

“Di demplot penetasan akan diberikan perlakuan semi alami, diameter lubang penetasan sebesar 20 sentimeter dengan kedalaman 40 sentimeter, jika suhu normal antara 29 celcius hingga 30 celcius telur akan menetas setidaknya hingga 47 hari kedepan,” ucapnya.

Kepala Balai Konservasi Wilayah 3 BKSDA, P Samosir mengatakan TMA Tanjung belimbing merupakan kawasan hutan yang dikembangkan sebagai lokasi rekreasi dan wisata.

”Tetapi di sini juga ada satu khas yang dipandang penting, karena dipesisir pantai menjadi habitat penyu.Kami menyadari perlakuan ini berguna untuk mempertahankan keberadaan penyu, itu tujuan sebenarnya dan sekaligus menjadi proses edukasi bagi masyarakat dalam mempertahankan keberadaan penyu,” tambah Samosir.

Ia menerangkan sejak 2012 pihaknya telah berulangkali melakukan pelepasan tukik, pada 2012 setidaknya ada 750 ekor, 2013 sebanyak 307 ekor dan pada 2014 sebanyak 1950 ekor. Jika menilik data kata Samosir pencurian telur penyu masih terus terjadi.

“Kita tak dapat menutup mata, karena pada tahun kemarin saja ada dua berkas, dengan barang bukti ribuan telur,” katanya.

Sore itu awak media bersama BKSDA melepaskan belasan ekor tukik yang sebelumnya telah dipilih oleh Reza dan Ari. Hanya tukik berasal dari demplot kategori umur dua bulan keatas pasca menetas serta yang terlihat lincah.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen, Heriyanto Sagiya menuturkan pelepasan tukik merupakan bagian dari bentuk kepedulan awak media terhadap pelestarian penyu. Selain itu materi yang diangkat diharapkan dapat menjadi inspirasi ataupun menjadi edukasi bagi masyarakat luas dalam upaya penyelamatan penyu.

Penulis: Novi Saputra
Editor: Mirna Tribun
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved