Artis Terlibat Prostitusi

MUI Prihatin Prostitusi Marak di Tanah Air

saya kira itu hanyalah bongkahan gunung es yang hanya kecil di permukaan, tapi besar di dalamnya

Editor: Arief

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, JAKARTA --- Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsudin mengaku prihatin dengan maraknya praktik prostitusi di tanah air. Apalagi terungkap hingga kalangan artis pun ikut menjajakan tubuhnya, dan kalangan politisi diduga ikut menikmati jasa tersebut.

"Dan saya kira itu hanyalah bongkahan gunung es yang hanya kecil di permukaan, tapi besar di dalamnya," kata Din Syamsudin di Istana Wapres, Jakarta Pusat, Selasa (12/5/2015).

Prostitusi oleh kalangan artis itu terungap setelah petugas Polres Metro Jakarta Selatan pada Jumat lalu (8/5), mengamankan seorang artis berinisial AA, serta sang mucikari yang berinisial RD. Sang artis yang diamankan Polisi itu, diketahui memasang tarif Rp 80 juta sekali kencan.

Sedangkan RD kepada wartawan sempat mengakui ada anggota DPR yang sempat menjadi pelanggan dari gadis-gadis binaannya. Namun ia tidak berani mengungkapkan identitas anggota DPR yang dimaksud. Akan tetapi dalam kesempatan wawancara dengan TV One pada Selasa pagi, RD menyangkal keterangannya itu.

Sebelum kasus AA, kasus prostitusi juga terungkap setelah Deudeuh Alfi Syahri alias Empi (26) yang diketahui berprofesi sebagai pekerja seks, diketemukan tewas di kamar kost nya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, pada 11 April lalu.

Dari pengungkapan Polisi diketahui Empi menawarkan jasanya melalui media sosial. Pelaku pembunuhan Empi pun akhirnya terungak adalah salah seorang pelanggannya, yang pada awalnya mengenal Empi melalui media sosial.

Menurut Din yang dikhawatirkan dari kondisi Indonesia saat ini bukan hanya kasus prostitusi, peredaran narkoba pun juga harus menjadi perhatian. Selain itu ia juga menyinggung soal masih maraknya praktik korupsi yang juga masih banyak terjadi.

"Inilah yang kita sebut sebagai tuna aksara moral, buta huruf moral. Ini yang melanda bangsa ini, tidak hanya kalangan awam. Tetapi kalangan yang terdidik. Ini tentu akan meruntuhkan bangsa. Oleh karena itu perlu langkah serius, komperhensif," ujarnya.

Ia pun menyinggung gagasan Revolusi Mental yang sempat diusung pasangan Joko Widodo - Jusuf Kalla pada saat kampanye. Dengan merevolusi mental rakyat Indonesia, permasalahan moral itu bisa diselesaikan.

"Sebenarnya gagasan revolusi mental itu bagus, tapi sayang belum terlaksana dengan baik. Atau belum ada tanda-tanda penerapan yang baik," tandasnya.

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved