Waduh, Orangutan ini Kian Terhimpit Habitat Hidupnya

Ia bercerita, tentang keberadaan orangutan itu yang menurutnya sering datang dan kerap kali mampir di lokasi pertaniannya

Waduh, Orangutan ini Kian Terhimpit Habitat Hidupnya
YAYASAN PALUNG
Orangutan jantan yang ditemui di lahan peranian warga Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalbar. 

Citizen Reporter
Petrus Kanisius
Aktivis Yayasan Palung

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Setidaknya, foto orangutan jantan ini menggambarkan bagaimana kondisi, suasana atau keadaannya di habitat hidupnya saat ini. Ya, benar saja. Sarang, sisa-sisa makan berupa tebu dari dikawasan pertanian dan perladangan masyarakat sempat dijumpai saat kami berada di kawasan tersebut yang terletak di Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalbar.

Berdasarkan penelusuran Yayasan Palung, beberapa pekan lalu membenarkan orangutan yang berada di kawasan pemukiman masyarakat dan di wilayah perladangan masyarakat di Desa Sungai Besar tersebut benar adanya.

Terhimpitnya habitat orangutan tersebut tidak lain karena tempat hidup mereka semakin berkurang akibat semakin meluasnya area pertanian berupa ladang-ladang masyarakat. Tidak hanya itu, di kawasan ditemukan orangutan tersebut jarak jangkauannya dari Kabupaten Ketapang ± 20 - 25 km untuk bisa mencapai wilayah itu.

Sebuah kekhawatiran, demikian ungkap seorang petani perempuan bernama Nana. Ia bercerita, tentang keberadaan orangutan itu yang menurutnya sering datang dan kerap kali mampir di lokasi pertaniannya yang secara kebetulan juga berisi kebun pertanian berupa tanaman kelapa dan tebu selain padi juga ada yang rebah (tumbang). Sebagian besar tanaman kelapa miliknya dipastikan telah menjadi makanan beberapa individu orangutan tersebut.

Bahkan menurut Nana, orangutan tersebut ternyata bersarang di pohon mangga, tidak jauh disekitaran kebun miliknya. Sarang itu telihat masih baru dan rendah sekali. Kadang-kadang terlihat ada dua individu terlihat orangutan itu, namun yang paling ramai yang pernah saya lihat orangutan tersebut tidak kurang berjumlah empat individu.

Dari hasil pantauan Yayasan Palung, keberadaan orangutan tersebut telah terhimpit akibat luasan hutan tempat hidup orangutan semakin berkurang dan kalah bertahan oleh luasan pertanian dan pemukiman milik masyarakat.

"Mungkin saja, orangutan tersebut sudah sulit menemukan makanannya di sekitaran habitnya sehingga menjelajah hingga memakan tanaman milik masyarakat", ungkap Manajer Perlindungan Satwa dari Yayasan Palung, Edi Rahman.

Lebih lanjut Edi mengatakan, pada wilayah ditemukannya orangutan tersebut juga terlihat, hutan yang tersisa hanya tersisa sedikit saja bahkan hampir dipastikan akan habis beberapa waktu lagi. Sebuah kekhawatiran lainnya juga akan muncul adalah tentang nasib orangutan-orangutan yang berada di kawasan itu.

Apabila tidak diselamatkan, besar kemungkinan orangutan tersebut akan semakin terancam dan mungkin saja akan mati. Sampai saat ini, orangutan tersebut masih berada di kawasan tersebut. Semakin menyempitnya luasan kawasan hutan di Sungai Besar setidaknya menjadi tanda nyata dan kekhawatirkan dengan kawasan hutannya semakin berkurang dengan demikian ancaman terhadap habitat dan nasib orangutan semakin serius. Semoga ada solusi dan perhatian bersama untuk melihat hal ini. Semoga...

Penulis: Stefanus Akim
Editor: Arief
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved