Siswi Korban Pencabulan Mengaku Dipukul, Diseret dan Dilempar ke Parit
pas mau diambil tangan saya dipiting, dipukul langsung diseret dan dilemparkannya ke dalam parit. Habis dilemparkan itu saya tak sadar lagi
Penulis: Subandi | Editor: Arief
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - DW (14), siswi kelas 1 SMP di Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, mengaku masih trauma dengan musibah dialaminya.
Perlakuan kasar hingga perbuatan cabul yang diterimanya, masih membekas dalam ingatannya. Wajahnya sering tertunduk, matanya berlinang ketika bercerita di hadapan wartawan, Rabu (4/2/2015).
Ia mengaku dipukul, diseret, dan dilempar ke parit hingga tak sadarkan diri. Saat sadar ia merasa ada rasa berbeda pada alat kelaminnya. Menurutnya, peristiwa itu terjadi setelah ia mengantar keponakannya pulang ke rumah pamannya pada Selasa (20/1/2015) sekitar pukul 21.00 WIB.
Setelah mengantar keponakannya, DW belanja dulu ke toko di Jl Raya Loging Dusun Tanjung Asam Desa Kayong Hulu, Nanga Tayap. "Dari belakang memang tahu ada yang seperti mengikuti," kata DW yang mengantarkan keponakannya menggunakan sepeda motor.
Toko yang ditujunya ternyata tutup tapi dirinya sempat berhenti sejenak. "Ketika mau melanjutkan pulang dia (pelaku) langsung mengambil kunci motor dan handphone saya, kemudian dibawa lari. Maka saya kejar pakai motor," ungkapnya.
DW bisa menggunakan motor karena memang kunci motornya tak berfungsi. Sekitar puluhan meter tersangka lari kemudian berhenti dan membiarkan korban mendekat untuk mengambil barangnya. Namun tersangka menurut korban malah memitingnya.
"Ketika berhenti dia bilang kalau mau ambil, ambillah, sambil menunjukkan kunci motor dan handphone saya. Tapi pas mau diambil tangan saya dipiting, dipukul langsung diseret dan dilemparkannya ke dalam parit. Habis dilemparkan itu saya tak sadar lagi," tuturnya.
Saat sadar, korban mengaku pakaiannya kotor dan celana pendek yang ia gunakan koyak. "Kemaluan saya rasanya beda, ada rasa perih. Setelah sadar, saya naik sendiri dari parit dan pas pulang ketemu bapak di jalan. Ditanya-tanya bapak, saya ceritakanlah," katanya.
Sementara tersangka pencabulan terhadap DW, Alpinsius Redi (21) telah ditangkap anggota Polsek Kecamatan Tayap di Dusun Betenung, Kamis Kamis (26/1/2015). Oleh polsek, kasus ini dilimpahkan ke Polres Ketapang pada Jumat (27/2).
Alpinius Redi membantah telah melakukan pencabulan terhadap DW. Ia mengaku hubungan intim itu dilakukannya atas dasar suka sama suka. Dirinya tak menyangka perbauatan mereka akan berbuntut panjang hingga ke ranah hukum. "Kejadian malam itu, cewek itu ada SMS, dia bilang jadi ndak ketemuan," katanya.
Setelah keduanya bertemu tak jauh dari sebuah SMP di lokasi kejadian, Redi mengaku berhubungan intim dengan DW. "Di situlah kita melakukannya, tidak dipaksa, terus terang saja," katanya.
Redi mengaku kenal dan berkomunikasi dengan DW, hanya melalui handphone. Setelah 10 hari berkenalan di handphone, baru keduanya bertemu di malam kejadian. "Ketemu baru sekali langsung melakukannya, saya tak tahu kenapa dia mau," tuturnya.
Tersangka juga membantah telah memiting, memukul dan mencampakkan korban ke parit. Menurutnya, DW masuk parit karena terjatuh bersamanya. "Habis melakukan kita berdua jatuh dalam parit. Aku naik duluan, dia minta tarik dan aku tarik," jelasnya.
"Habis itu aku pulang ke rumah. Orangtuanya datang menanyakan HP dan kunci motor. Aku bilang tak ada, kalau aku bawa kunci motor, tak mungking anak bapak pulang bawa motor sendiri," katanya.